<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TangoPeduliGizi.Com &#187; Balai Pemulihan gizi</title>
	<atom:link href="http://tangopeduligizi.com/tag/balai-pemulihan-gizi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tangopeduligizi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 04:41:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>TANGO TERUS BANTU PERBAIKI GIZI ANAK INDONESIA MELALUI PROGRAM  “TANGO PEDULI GIZI 2011”</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2011/07/tango-terus-bantu-perbaiki-gizi-anak-indonesia-melalui-program-%e2%80%9ctango-peduli-gizi-2011%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2011/07/tango-terus-bantu-perbaiki-gizi-anak-indonesia-melalui-program-%e2%80%9ctango-peduli-gizi-2011%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 10:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tango</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fact Sheet]]></category>
		<category><![CDATA[Media Room]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan Gizi Tango]]></category>
		<category><![CDATA[gizi buruk]]></category>
		<category><![CDATA[hari anak nasional]]></category>
		<category><![CDATA[kekurangan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemberian Makanan Tambahan]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=1218</guid>
		<description><![CDATA[Fokus pada pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan guna bantu pertahankan status gizi anak
JAKARTA, 22 Juli, 2011 – Sebagai wujud kepedulian dalam memperbaiki kondisi gizi anak Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih baik, Wafer Tango bekerjasama dengan Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI) kembali meluncurkan program Tango Peduli Gizi (TPG) Anak Indonesia 2011. Acara peluncuran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Fokus pada pemberdayaan </em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;">ekonomi</span></em></strong><strong><em>, perbaikan sanitasi dan pendampingan</em></strong><strong><em> guna bantu pertahankan status gizi</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>anak</em></strong></p>
<p><strong>JAKARTA, 22 Juli, 2011 – </strong>Sebagai wujud kepedulian dalam memperbaiki kondisi gizi anak Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih baik, Wafer Tango bekerjasama dengan Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI) kembali meluncurkan program <strong>Tango Peduli Gizi (TPG)</strong><strong> Anak Indonesia 2011. Acara peluncuran ini diadakan </strong>berdekatan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2011.<span id="more-1218"></span></p>
<p>Pada hari ini, Wafer Tango bersama dengan Yayasan OBI juga memberikan paparan kinerja program <strong>Tango Peduli Gizi 2010</strong> yang telah berlangsung dari Januari 2010 sampai <span style="text-decoration: underline;">Juli </span>2011. Acara yang berlangsung di Atrium Pejaten Village ini dihadiri oleh <strong>Ir. Asih Setiarini, MSc.b</strong>., Spesialis Gizi Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, <strong>Yuna Eka Kristina</strong>, PR Manager OT Group dan <strong>dr. Monik Silalahi</strong>, <em>social worker</em> OBI sekaligus pelaksana lapangan program Tango Peduli Gizi di Nias (Sumatra Utara).</p>
<p><strong>Tango Peduli Gizi 2011</strong> dititikberatkan pada program pemberdayaan <span style="text-decoration: underline;">ekonomi</span>, perbaikan sanitasi dan <span style="text-decoration: underline;">pendampingan </span>di wilayah Nias, Sumatera Utara. Wafer Tango berharap bahwa program TPG 2011 ini mampu membantu keluarga Nias untuk mempertahankan kondisi kesehatan dan status gizi anak yang telah pulih setelah mengikuti program TPG 2010.</p>
<p><strong>Yuna Eka Kristina</strong>, PR Manager OT Group menyatakan bahwa “Peluncuran program Tango Peduli Gizi 2011 ini berdasar pada hasil evaluasi kami terhadap program Tango Peduli Gizi 2010 yang telah terbukti efektif dalam memperbaiki kondisi kesehatan dan meningkatan status gizi anak-anak Nias. Namun sayangnya ketika dilakukan evaluasi pasca mereka kembali ke rumah masing- masing, mereka terindikasi kesulitan untuk mempertahankan kondisi yang telah “pulih” tersebut.”</p>
<p>Program Tango Peduli Gizi 2010 terdiri dari dua aktivitas besar yaitu <em>Pemberian Makanan Tambahan (PMT)</em> dengan gizi seimbang yang diberikan setiap hari selama 3 bulan kepada <span style="text-decoration: underline;">526</span> anak berumur diatas enam bulan hingga 12 tahun di Nias dan Ruteng, serta <em>Balai Pemulihan Gizi</em> (BPG) Tango yang memberikan perawatan intensif terhadap 72 anak dengan gizi buruk di Nias.</p>
<p>Tango mendapati 95 persen anak- anak yang mengikuti <em>PMT</em> meningkat status gizinya dari gizi kurang ke gizi baik dengan rata-rata berat badan anak meningkat 1 kg, rata-rata lingkar lengan atas anak meningkat sekitar 1 cm, dan rata-rata tinggi badan anak meningkat sekitar 2 cm. Sedangkan 5 persen sisanya tidak mengalami kenaikan berat badan, namun mengalami perkembangan yang signifikan terhadap keceriaan dan daya tahan tubuh mereka.</p>
<p>Sedangkan setiap anak dengan status gizi buruk dibawa ke <em>Balai Pemulihan Gizi</em> Tango. Rata- rata anak- anak akan membaik kondisinya setelah dirawat intensif selama 3-4 bulan. Namun jika terdapat penyakit penyerta seperti TB Paru dan kelainan sistem syaraf, rata-rata status gizi dan kondisi kesehatan membaik setelah mengikuti program pemulihan selama 4-6 bulan. Selama dirawat di BPG, anak didampingi oleh ibu mereka dan ibu mendapat penyuluhan pengolahan makanan. 100 persen anak yang sudah dinyatakan “pulih” pulang dari BPG Tango dengan kondisi gizi yang meningkat ke gizi baik dengan  rata-rata berat badan anak meningkat 2 kg, rata-rata lingkar lengan atas anak meningkat sekitar 2 cm, dan rata-rata tinggi badan anak meningkat sekitar 4 cm.</p>
<p>Setelah kedua program tersebut selesai dilaksanakan, dilakukan evaluasi terhadap kondisi gizi mereka pasca kembali ke rumah. Dari 100 persen anak BPG yang telah “pulih”, 50-60 persen anak terindikasi sulit bertahan pada status gizi baik dan bila tidak segera dilakukan tindakan preventif kemungkinan dapat menurun status gizinya ke gizi kurang. Ditengarai rendahnya faktor ekonomi yang menyebabkan tidak adanya sumber makanan yang bisa menjadi asupan gizi bagi mereka; kurangnya pengetahuan untuk membudidayakan, memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam yang tersedia; serta buruknya sanitasi tempat tinggal yang fungsinya menyatu antara tempat tidur dan dapur serta tidak adanya fasilitas MCK menjadi penyebabnya.</p>
<p>“Hasil evaluasi membawa kami kepada satu kesimpulan yaitu untuk membantu mereka terbebas dari masalah gizi, tidak cukup hanya memberi kail dan ikannya, namun melengkapi itu, mereka juga harus diberikan pendampingan agar mereka tahu benar apa yang harus dilakukan. Karenanya guna membantu keluarga mempertahankan kondisi kesehatan dan gizi anak-anak ketika mereka kembali di rumahnya masing-masing, kami meluncurkan program TPG di tahun 2011 ini yang menitikberatkan pada program pemberdayaan <span style="text-decoration: underline;">ekonomi</span>, perbaikan sanitasi dan pendampingan. Kami menyadari bahwa untuk membantu anak-anak Indonesia terlepas dari masalah gizi diperlukan pendekatan komprehesif yang mampu mencakup peningkatan kondisi ekonomi keluarga, pengembangan pengetahuan dan pemahaman keluarga mengenai gizi dan wirausaha serta rehabilitasi kondisi sanitasi lingkungannya,” tambah Yuna.</p>
<p>Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari <strong>Ir. Asih Setiarini, MSc.b</strong>., Spesialis Gizi Kesehatan Masyarakat dari FKM-UI yang juga hadir pada acara <span style="text-decoration: underline;">peluncuran</span><em> </em>ini. Beliau menyatakan bahwa, “Gizi buruk di Indonesia disebabkan multi faktor, diantaranya faktor ekonomi, pendidikan, politik dan sosial budaya. Program rehabilitasi yang terdiri dari pemberian bantuan pangan dan intervensi medis sifatnya hanya darurat kuratif jangka pendek. Diperlukan sebuah pendekatan program yang komprehensif untuk dapat mendorong perubahan perilaku dan membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang hingga mampu memperbaiki kondisinya sendiri. Jadi menurut saya, solusi untuk menyelesaikan permasalahan gizi di Indonesia ada di tangan masyarakat itu sendiri dan membutuhkan kemauan dan komitmen besar dari berbagai pihak termasuk warga masyarakat untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan gizi mereka.”</p>
<p>“Saya melihat program Tango Peduli Gizi telah mendapat cukup pengalaman dari kontribusinya di tahun 2010 dan mengembangkannya di tahun 2011 dengan pendekatan program yang lebih komprehensif. Program ini akan menciptakan komitmen keluarga untuk mau berusaha dan memperbaiki pola asuhnya dan itu akan bermanfaat untuk jangka panjang,” tambah  Ibu Asih.</p>
<p>Program TPG 2011 akan meliputi tiga titik kegiatan yaitu: pemberdayaan <span style="text-decoration: underline;">ekonomi</span> <span style="text-decoration: underline;">keluarga</span> dengan memberikan modal benih ternak dan bibit tanaman untuk dibudidayakan agar dapat menghasilkan bahan makanan yang bernutrisi serta sebagai tambahan ekonomi mereka; pendampingan intensif mengenai gizi, pemanfaatan dan pengolahan sumber makanan, perilaku hidup bersih sehat,  kemampuan melihat potensi untuk memasarkan hasil budidaya; serta perbaikan kelayakan rumah (atap dan lantai) termasuk sarana sanitasi yang memadai (dapur dan MCK). Program ini juga mencakup pengobatan penyakit bawaan yang diderita keluarga dengan maksud tidak menular kembali kepada anak- anak program.</p>
<p>Sebagai proyek awal, program Tango Peduli Gizi 2011 ini akan mencakup 25 keluarga Nias yang telah mengikuti program BPG pada tahun 2010 lalu dan telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti program pemberdayaan ini selama delapan bulan dari Juli 2011 hingga Februari 2012. Jumlah yang terlihat tidak banyak, namun hasilnya diharapkan memberikan efek mendalam yaitu perubahan perilaku keluarga agar ke depannya mampu meningkatkan kualitas hidup, terbebas dari masalah gizi buruk dan mandiri dalam pemenuhan gizi dan pemeliharaan kesehatannya. Selain itu program ini memiliki tingkat kesulitan terkait budaya serta memerlukan komitmen tinggi dari berbagai pihak termasuk keluarga Nias itu sendiri.</p>
<p>“Pada kesempatan ini, saya mewakili Wafer Tango ingin menyampaikan terima kasih atas kontribusi dan partisipasi masyarakat Indonesia pada program Tango Peduli Gizi 2010. Namun tugas kita untuk membebaskan  bangsa Indonesia dari ancaman gizi buruk ini belum selesai. Untuk itu Wafer Tango mengajak masyarakat untuk tetap bersama-sama berbagi kebaikan membantu anak-anak Indonesia agar terbebas sepenuhnya dari permasalahan gizi. Dan demi tercapainya tugas mulia ini kami sangat mengharapkan dukungan dari masyarakat untuk program Tango Peduli Gizi 2011 ini,” tutup Yuna.</p>
<p>Masyarakat bisa mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai berita terkini dan perkembangan program <strong>Tango Peduli Gizi</strong> dan berinteraksi langsung dengan anak- anak penerima bantuan melalui <a href="http://www.tangopeduligizi.com/">www.tangopeduligizi.com</a>.</p>
<p>Setiap kehadiran media pada acara Launching ini berarti turut menyumbangkan 100 ekor lele untuk pemenuhan gizi keluarga Nias dan sekitar 10 persen dari penjualan paket “Tango Peduli Gizi” yang dijual khusus di booth Wafer Tango yang dibuka hanya hari ini (Jumat, 22 Juli 2011) di Atrium Pejaten Village akan turut pula mengembangkan senyum di wajah mereka.</p>
<p>-selesai-</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengenai Tango:</span></strong></p>
<p><strong>Tango</strong>, <strong>Wafer Renyah</strong>, pertama kali meramaikan dunia wafer Indonesia pada tahun 1995. Di awal kemunculannya, Tango hadir dengan 3 varian, yaitu <strong>Chocolate, Choco-Hazelnut</strong> dan <strong>Susu Vanilla</strong>.</p>
<p>Datangnya respon positif dari berbagai kalangan dan permintaan akan Wafer Tango yang terus bertambah, menjadi salah satu trigger bagi Tango dalam mengembangkan produknya. Hingga saat ini, Tango memiliki 6 varian rasa dalam kemasan menarik, yaitu <strong>Chocolate,</strong> <strong>Susu Vanilla, Strawberry Jam, Tiramisu, Cookies &amp; Cream dan Kurma Madu.</strong></p>
<p>Dengan tag line-nya “Memang Tango Enak”, Tango diciptakan sebagai ahlinya wafer dengan kualitas unggulan, rasa yang enak serta dipadu dengan kerenyahan. Namun dengan segala kualitas yang dimilikinya tersebut, Tango tersedia dengan harga yang terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan.</p>
<p>Selain varian varian regular, Tango juga mengeluarkan varian khusus, yaitu <strong>Tango Less Sugar</strong>. Produk ini ditujukan bagi kalangan yang menjaga konsumsi gula dalam tubuh. Tango Sugar Free hadir dalam kemasan 16 gr dengan rasa <strong>Chocolate </strong>dan <strong>Susu Vanilla</strong>.</p>
<p>Semua usaha yang dilakukan Tango, membawa Tango pada berbagai penghargaan. Selama 9 tahun berturut- turut, yaitu sejak tahun 2002-2010, Tango mendapatkan penghargaan <strong>Indonesia Customer Satisfaction Awards (ICSA) </strong>dan mendapat <strong>Golden ICSA Award</strong> <strong>(2008) </strong>sebagai bentuk penghargaan konsumen atas kualitas produk dan pelayanan wafer Tango. Dan pada tahun 2009, Tango untuk pertama kalinya berhasil mendapatkan <strong>CERTIFICATE SUPERIOR TASTE AWARD 2009 </strong>dari <strong>International Taste &amp; Quality</strong> <strong>Institute Belgia (iTQi) </strong>untuk Wafer <strong>Tango Chocolate Cream </strong>dan Wafer <strong>Tango Vanilla</strong> <strong>Milk Cream</strong>. Prestasi ini menunjukkan bahwa Wafer Tango merupakan wafer premium yang berasal dari bahan-bahan berkualiatas tinggi dan kenikmatan rasanya diakui secara international. Selain itu Tango juga berhasil mendapatkan penghargaan <strong>Top Brand Award Platinum</strong> dan <strong>Top Brand Award for Kids</strong> di tahun 2011.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:</span></strong><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="622">
<tbody>
<tr>
<td width="313" valign="top"><strong>Yuna Eka Kristina</strong></p>
<p><em>PR Manager</em></p>
<p>PT Orangtua Group</p>
<p>Tel   : 021 – 5365 2121</p>
<p>Fax:   021 – 535 9692</p>
<p>E-mail: <a href="mailto:pr@ot.cio.id">pr@ot.cio.id</a></td>
<td width="309" valign="top"><strong>Duhita Mahatmi / Mutia Wisnu </strong></p>
<p>Stratcom Indonesia</p>
<p>Tel : 021 – 721 59099</p>
<p>Fax: 021 – 727 89521</p>
<p>E-mail: <a href="mailto:duhita@stratcom.co.id">duhita@stratcom.co.id</a></p>
<p><a href="mailto:mutiasavira@stratcom.co.id">mutia@stratcom.co.id</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Ref. S624/10/3/MediaRelease/ Tango Peduli Gizi &#8211; Media Release &#8211; Jul2211(FIN-APP).doc</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2011/07/tango-terus-bantu-perbaiki-gizi-anak-indonesia-melalui-program-%e2%80%9ctango-peduli-gizi-2011%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah di Balik Balai Pemulihan Gizi Tango</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2011/06/kisah-di-balik-balai-pemulihan-gizi-tango/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2011/06/kisah-di-balik-balai-pemulihan-gizi-tango/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 11:27:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annamaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Program Info]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan Gizi Tango]]></category>
		<category><![CDATA[BPG]]></category>
		<category><![CDATA[gizi anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[gizi buruk]]></category>
		<category><![CDATA[Nias]]></category>
		<category><![CDATA[program tango peduli gizi anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat tango]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=1170</guid>
		<description><![CDATA[
Brian, salah satu anak yang dulu dirawat di Balai Pemulihan Gizi Tango dan kini sudah sembuh.
“Balai Pemulihan Gizi Tango terbuka bagi anak Nias yang menderita gizi buruk. Di bawah perawatan dokter anak berpengalaman, anak- anak akan dirawat dan diobati secara intensif dan semua biaya ditanggung oleh Tango. Namun ada satu syarat yang diajukan yaitu harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1146" class="wp-caption alignleft" style="width: 176px"><a rel="attachment wp-att-1146" href="http://tangopeduligizi.com/2011/06/kisah-di-balik-balai-pemulihan-gizi-tango/before-bpg_resize/"><img class="size-full wp-image-1146" title="Before BPG" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/Before-BPG_resize.jpg" alt="" width="166" height="131" /></a><p class="wp-caption-text">Before </p></div>
<div id="attachment_1145" class="wp-caption alignleft" style="width: 178px"><a rel="attachment wp-att-1145" href="http://tangopeduligizi.com/2011/06/kisah-di-balik-balai-pemulihan-gizi-tango/after-bpg_resize/"><img class="size-full wp-image-1145" title="After BPG" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/After-BPG_resize.jpg" alt="" width="168" height="131" /></a><p class="wp-caption-text">After</p></div>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><strong>Brian, salah satu anak yang dulu dirawat di Balai Pemulihan Gizi Tango dan kini sudah sembuh.</strong></p>
<p>“Balai Pemulihan Gizi Tango terbuka bagi anak Nias yang menderita gizi buruk. Di bawah perawatan dokter anak berpengalaman, anak- anak akan dirawat dan diobati secara intensif dan semua biaya ditanggung oleh Tango. Namun ada satu syarat yang diajukan yaitu harus didampingi ibu atau seorang kerabat,” begitulah penjelasan yang selalu kami berikan mengenai prasyarat agar seorang anak dapat mendapatkan perawatan di Balai Pemulihan Gizi Tango. Syarat yang sederhana. Dan syarat itu pun dibuat agar kelak si pendamping dapat meneruskan cara merawat anak dengan baik.<span id="more-1170"></span></p>
<p>Namun kondisi di lapangan tak semudah itu. Dibantu oleh pemerintah dan puskesmas setempat, Yayasan Obor Berkat Indonesia selaku partner Program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia secara aktif mencari anak- anak yang memerlukan pertolongan agar segera terlepas dari kondisi gizi buruk yang membelenggunya. Namun pelaksanaan pencarian ini terkadang mengalami hambatan. Faktor budaya dan <em>mindset</em> yang menjadi penghalangnya.</p>
<p>Sistem kekerabatan Nias menerapkan kebudayaan dimana Istri telah dibeli mahal oleh suami kala pernikahannya, sehingga kemudian istri berperan bukan hanya pengurus rumah tangga namun juga harus mencari. Belum lagi dengan rata- rata jumlah anak lebih dari 5 dalam satu keluarga, jelas membuat Ibu tidak dapat mendampingi anak dalam masa perwatan BPG.</p>
<p>Demikian pula dengan mindset yang lebih percaya pada tabib tradisional dibanding ilmu kedokteran modern, menyebabkan mereka enggan membawa anaknya untuk dirawat. Bagi mereka, anak dengan perut membusung adalah hal yang biasa dan terkadang dihubungkan dengan  mistis.</p>
<p>Hal- hal inilah yang menjadikan kendala dalam perawatan. Bahkan ada 14 anak yang terpaksa pulang sebelum sembuh karena hal- hal tersebut. Kepulangan mereka tersebut beragam alasannya, mulai dari si Bapak yang tak ingin si Ibu pergi terlalu lama, si Ibu akan melahirkan anak selanjutnya dan beragam cerita lain. Yang menambah kesedihan kami adalah dari anak- anak yang dipulangkan paksa ini, 2 anak meninggal dunia.</p>
<p>Namun, atas komitmen Tango untuk membantu 72 anak hingga benar- benar sembuh, maka ke-14 anak pulang paksa tersebut digantikan dengan mereka yang bersedia memenuhi syarat yang ditetapkan. Hingga kini, Tango dan OBI tak pernah putus asa untuk terus melakukan program Balai Pemulihan Gizi ini hingga banyak lagi yang bisa dipulihkan.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan dukungan dari Anda, Sahabat Tango, mari kita terus berjuang untuk perbaikan gizi anak Indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2011/06/kisah-di-balik-balai-pemulihan-gizi-tango/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Untung ada BPG Tango di Nias, yang  merawat anak saya Selfin…  Gratis”</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2011/06/%e2%80%9cuntung-ada-bpg-tango-di-nias-yang-merawat-anak-saya-selfin%e2%80%a6-gratis%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2011/06/%e2%80%9cuntung-ada-bpg-tango-di-nias-yang-merawat-anak-saya-selfin%e2%80%a6-gratis%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 10:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annamaria</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Program Info]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[BPG]]></category>
		<category><![CDATA[BPG Tango]]></category>
		<category><![CDATA[desa sihare]]></category>
		<category><![CDATA[Nias]]></category>
		<category><![CDATA[nias selatan]]></category>
		<category><![CDATA[Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[program peduli gizi anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat tango]]></category>
		<category><![CDATA[selfin]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=1160</guid>
		<description><![CDATA[Selfin Giaman Telaumbanua  (14 bulan), anak pertama dari pasangan Aninano Telaumbanua (29) dan Rosmida Laila (28) ini merupakan salah seorang pasien gizi buruk, yang sampai sekarang masih menjalani perawatan di Balai Pemulihan Gizi (BPG) -Tango di Nias. “Sejak umur tiga bulan,  anak saya sering demam bahkan pernah suatu saat sampai mengalami kejang-kejang. Selfin keadaannya sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1158" href="http://tangopeduligizi.com/?attachment_id=1158"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1158" title="Selfin" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/Selfi_300px-150x112.jpg" alt="" width="250" height="184" /></a><strong>Selfin Giaman Telaumbanua  (14 bulan),</strong> anak pertama dari pasangan Aninano Telaumbanua (29) dan Rosmida Laila (28) ini merupakan salah seorang pasien gizi buruk, yang sampai sekarang masih menjalani perawatan di <strong>Balai Pemulihan Gizi (BPG) -Tango</strong> di Nias. <em>“Sejak umur tiga bulan,  anak saya sering demam bahkan pernah suatu saat sampai mengalami kejang-kejang. Selfin keadaannya sangat kurus dan pucat sekali. Mau dibawa kerumah sakit, tapi uang kami tidak punya  karena penghasilan suami saya hanya 130 ribu per bulan dan hanya cukup buat makan sehari-hari. Untung saya dikenalkan dengan BPG OBI- Tango , yang akhirnya merawat anak saya dan semuanya gratis.”</em> Kenang  Rosmida.<span id="more-1160"></span></p>
<p>Selfin dan anak-anak Nias lainnya menjadi pasien di BPG Tango. Mereka mengalami kurang gizi bahkan menderita  gizi buruk akibat kemiskinan dan keterbatasan pengetahuan orangtua. Selfin dan keluarganya tinggal di desa Sihare, Nias Selatan. Mereka hidup dengan mengandalkan penghasilan sang ayah yang hanya bekerja sebagai petani, sementara ibunya (Rosmida Laila, 28) hanyalah ibu rumah tangga yang tidak mengerti pola hidup sehat bagi keluarga. Dengan penghasilan yang minim, Aninano mengaku sulit memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak jarang mereka harus mengkonsumsi pisang rebus pengganti nasi, karena tidak ada uang yang tersisa untuk membeli beras.</p>
<p><em>“Sejak umur tiga bulan anak saya sering demam, bahkan pernah suatu saat mengalami kejang-kejang. Selfin sangat kurus dan pucat sekali, mau dibawa kerumah sakit tapi uang kami tidak punya  karena penghasilan suami saya hanya Rp.130,000 /bulan, hanya cukup buat kami makan sehari-hari.  Untung saya dikenalkan dengan BPG Tango yang akhirnya merawat anak saya Selfin dan semuanya gratis.” </em><strong>Rosmida. <em></em></strong></p>
<p>Kehidupan Selfin dan keluarganya mewakili gambaran hidup sebagian masyarakat di Nias Selatan. Mereka membutuhkan dukungan kita untuk belajar tentang pola hidup sehat dan bantuan medis bagi anak-anak yang terlanjur sakit. Tugas kita adalah membukakan pengetahuan, mendidik dan mendampingi mereka agar pola pikir masyarakat terbuka, pengetahuan diberikan dan perubahan bisa dilakukan.  Untuk itulah Tango ambil bagian dalam program Peduli Gizi Anak Indonesia.</p>
<p>Hampir dua tahun lamanya, program ini masih berjalan dan telah memberikan perubahan bagi masyarakat Nias, khususnya menolong anak-anak gizi kurang bahkan gizi buruk. Terima kasih Sahabat Tango, kepedulian anda nyata dan memberikan perubahan bagi Nias.  <strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>source : </em></strong><a href="http://www.obi.or.id-ray/"><strong><em>www.obi.or.id-ray</em></strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2011/06/%e2%80%9cuntung-ada-bpg-tango-di-nias-yang-merawat-anak-saya-selfin%e2%80%a6-gratis%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasien Balai Pemulihan Gizi</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/06/pasien-balai-pemulihan-gizi/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/06/pasien-balai-pemulihan-gizi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 10:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo Gallery & Comment]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan Gizi Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-620 aligncenter" title="DSC05931" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/DSC05931-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-621" title="DSC05930" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/DSC05930-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-622 aligncenter" title="DSC05937" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/DSC05937-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/06/pasien-balai-pemulihan-gizi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CATATAN PERJALANAN WAFER TANGO KE NIAS:Balai Pemulihan Gizi</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/06/catatan-perjalanan-wafer-tango-ke-nias/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/06/catatan-perjalanan-wafer-tango-ke-nias/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 08:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Program Info]]></category>
		<category><![CDATA[anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 18 – 21 Mei yang lalu, merupakan perjalanan yang tidak akan kami lupakan. Di tanggal tersebut, Tim Tango, duta Tango terpilih dan perwakilan media massa berkesempatan mengunjungi anak – anak beneficiary program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia di Nias. Perjalanan ke Nias memakan waktu sekitar setengah hari karena tidak ada penerbangan langsung menuju pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-580" title="100_2408" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/100_24081-300x224.jpg" alt="" width="243" height="182" />Tanggal 18 – 21 Mei yang lalu, merupakan perjalanan yang tidak akan kami lupakan. Di tanggal tersebut, <strong>Tim Tango</strong>, <strong>duta Tango terpilih</strong> dan <strong>perwakilan media massa</strong> <strong>berkesempatan mengunjungi anak – anak <em>beneficiary </em>program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia di Nias</strong>. Perjalanan ke Nias memakan waktu sekitar setengah hari karena tidak ada penerbangan langsung menuju pulau tersebut. Kami harus berangkat menuju Medan dahulu baru kemudian melanjutkan penerbangan dengan pesawat baling-baling menuju ibu kota Nias, yaitu: Gunung Sitoli.<br />
<span id="more-581"></span><br />
Walau cukup lelah dan penuh dengan perasaan was- was karena pesawat baling-baling yang rentan guncangan, namun kami tetap semangat untuk bertemu dengan anak-anak tersebut. Tempat pertama yang kami tuju adalah <strong>Balai Pemulihan Gizi Wafer Tango</strong> dan <strong>OBI</strong> yang terletak di Desa Fodo, Gunung Sitoli. Sesampainya disana, lelah kami langsung digantikan dengan perasaan empati begitu melihat langsung pasien yang dirawat disana. Kurang gizi dan penyakit lain menggerogoti  tubuh mungil mereka yang terlihat rapuh. Tak disangka ternyata di negara yang kaya raya akan hasil alam ini, masih banyak anak-anak yang kekurangan gizi.</p>
<p>Salah satu pasien yang menarik perhatian kami adalah <strong>Esther J. Zega (7 thn)</strong>. Pertama kali masuk Balai Pemulihan Gizi, Esther hanya memiliki berat 7 kg, sama beratnya seperti bayi usia 7-8 bulan. Sungguh jauh dibawah angka kecukupan gizi. Tubuhnya hanya tulang berbalut kulit. Ia bahkan tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Satu-satunya anggota tubuh yang mampu ia gerakkan hanya sepasang bola mata indah miliknya. Setelah dirawat selama hampir 3 bulan, perlahan-lahan berat badan Esther mulai naik. Badannya mulai berisi dan ia mulai bisa menekukkan kakinya. Perasaan haru membuncah ketika melihat perempuan kecil ini. Tapi kami sadar yang dibutuhkan Esther saat ini bukan rasa iba, tetapi semangat , kekuatan dan doa dari kami semua untuk kesembuhannya.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-587   alignleft" title="Esther &amp; Brian" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/Esther-Brian-300x211.jpg" alt="" width="270" height="190" />Selain kekurangan gizi, anak- anak yang dirawat disana juga memiliki masalah bawaan. Kakak beradik <strong>Robi (4 thn)</strong> dan <strong>Agus (2 thn)</strong> misalnya, mereka tidak hanya mengalami  kurang gizi, tetapi juga mengidap <em>down syndrome</em>. Masing-masing anak memiliki cerita sendiri yang mampu membuat kami harus berkali-kali menyeka air mata. Melihat mereka, malu rasanya kalau kami seringkali tidak bersyukur apa yang kami miliki sekarang. </p>
<p>Satu hal yang menambah keharuan kami, meski memiliki kehidupan yang kurang beruntung, senyum tetap terulas di wajah polos mereka.  Senyum mereka menggambarkan harapan mereka, seperti yang terukir di wajah <strong>Brian (2 tahun)</strong>. Harapan kami semoga mereka cepat pulih dan dapat menikmati masa kecil mereka dengan semestinya.</p>
<p><em>Masih banyak cerita lain yang kami bawa dari Nias, ikuti terus artikelnya…</em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/06/catatan-perjalanan-wafer-tango-ke-nias/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Nias oleh Siska Honsus</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/06/oleh-oleh-dari-nias-oleh-siska-honsus/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/06/oleh-oleh-dari-nias-oleh-siska-honsus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 10:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[OBI]]></category>
		<category><![CDATA[Perbaikan Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[PMT]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Ya’ahowu

Media Trip Program Tango Peduli Gizi anak Indonesia di Pulau Nias (18-21 Mei 2010), bersama Obor Berkat Indonesia sebagai pelaksana di lapangan dan beberapa rekan media yang turut serta bersama kami.
Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat berpikir “seperti apa ya pulau Nias itu?”
Semua terjawab ketika aku sampai di Bandara Binaka, Gunung Sitoli (18 Mei 2010). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><img class="alignleft size-medium wp-image-537" title="siska-honsus" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/siska-honsus-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" />Ya’ahowu<br />
</em></strong><br />
Media Trip Program <strong>Tango Peduli Gizi anak Indonesia</strong> di Pulau Nias (18-21 Mei 2010), bersama Obor Berkat Indonesia sebagai pelaksana di lapangan dan beberapa rekan media yang turut serta bersama kami.<br />
Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat berpikir “seperti apa ya pulau Nias itu?”</p>
<p><span id="more-536"></span>Semua terjawab ketika aku sampai di Bandara Binaka, Gunung Sitoli (18 Mei 2010). Dalam perjalanan, mata ku tak henti-hentinya melihat kekanan dan kekiri, terkesan dengan pulau kecil nan sederhana itu. Saat itu kami langsung menuju <strong>Balai Pemulihan Gizi</strong> yang jaraknya tidak jauh dari bandara. Disana ada sekitar belasan anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk, dirawat secara intensif oleh para dokter yang mengabdi disana. Aku tertegun melihat anak-anak disana,bahkan ketika aku mendengar cerita bahwa sebelum mereka di bawa ke Balai Pemulihan Gizi, tubuh mereka lebih kurus dari yang aku lihat saat itu.</p>
<p>Senyum manis dan riang serta tangan-tangan mungil menyambut kedatangan kami. Dalam hati aku berkata “Tuhan, inilah penerus Bangsaku nanti. Mengapa mereka begitu lemah?” Kami berkeliling melihat keadaan pasien disana, seorang anak bernama <strong>Esther Jernih W. Zega (7 thn)</strong> menarik perhatianku. Tubuhnya kurus, anggota tubuhnya tidak dapat digerakkan, ia hampir tidak dapat merespon kami, hanya dari gerakkan matanya, aku tahu matanya berbinar, tanda ia senang melihat kedatangan kami. Ditemani sang nenek, Esther kecil terus menatap kami. Aku senang mendengar kemajuan Esther, katanya berat badannya sudah naik beberapa kg selama dirawat di Balai Pemulihan Gizi.</p>
<p style="text-align: left;">Keesokan harinya, kami berangkat ke Desa Sisarahili, lokasi <strong>Pemberian Makanan Tambahan</strong>. Perjalanan disana memakan waktu sekitar 2 jam. Untuk sampai disana kami harus melewati hutan, sungai, dan sekitar setengah jam perjalanan kami harus melewati jalan berbatu. Ketika sampai di PMT, kami disambut dengan tarian daerah yang berlangsung sekitar 100 menit. Sambutan yang sungguh meriah. Sebelumnya tarian-tarian seperti itu hanya pernah aku lihat di televisi, namun saat itu aku melihatnya langsung. Perjalanan jauh nan melelahkan terbayar sudah. Sinar matahari yang menyengat tidak dihiraukannya. Kami pun tak kuasa untuk bergabung dan menari bersama, mengikuti gerak kaki tangan mereka. Penghargaan yang besar seumur hidupku.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-538   aligncenter" title="siska-sisarahili" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/siska-sisarahili-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah mendengarkan kata-kata sambutan, kami masuk kedalam aula, disana anak-anak PMT sudah duduk rapi dan siap menyantap makanan bergizi. Aku sempat menyuapi salah seorang anak bernama <strong>Obertus (2 thn)</strong>. Ia makan dengan lahap dan dengan segera menghabiskan makanannya. Setelah makan, mereka dibagikan <strong>Wafer Tango</strong> dan Susu. Disana juga dilakukan pemeriksaan kesehatan (seperti penimbangan berat badan,pengukuran lingkar lengan, serta pemberian obat-obatan bagi yang membutuhkan) yang dilakukan oleh dokter-dokter dari OBI.</p>
<p>Senyum riang tidak hanya terpancar dari wajah mereka, tapi juga dari wajah orangtua mereka. Betapa mereka bersyukur, karena selama 3 bulan ini <strong>Tango</strong> dan <strong>OBI</strong> telah memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.<br />
Banyak pelajaran bermakna yang aku dapat disana, aku belajar bagaimana berbagi, saling mengasihi meski kami tak saling kenal sebelumnya. Dan aku bertekad bahwa tidak akan ada lagi makanan yang terbuang sia-sia.</p>
<p>Kami juga mengunjungi rumah salah satu peserta PMT, <strong>Julianus Harefa (5 thn)</strong>, bungsu dari empat bersaudara ini tinggal bersama dengan kedua orangtuanya dalam rumah berukuran 4&#215;5 meter. Mereka tidur, memasak, dan melakukan segalanya disana. Atap-atap rumahnya bocor, ketika turun hujan mereka harus mengungsi ke pinggir rumah agar tidak basah. Julianus menderita gizi buruk, kakinya <em>letter X</em>, dan diduga menderita TB paru. Hati aku menangis saat itu. Julianus kecil seharusnya menghabiskan waktu dengan bermain dan bermanjakan kasih sayang, namun ia harus menderita karena keadaan keluarganya yang tidak mampu. Setiap harinya mereka makan nasi dengan ikan asin, jika tidak ada nasi, mereka hanya makan ubi atau pisang rebus. Begitu miris kehidupan mereka.</p>
<p>Melihat keadaan Julianus, aku belajar mensyukuri apa yang aku miliki kini. Aku belajar menghargai setiap makanan yang aku makan, meskipun aku tidak menyukainya. Kehidupan yang sulit yang aku pernah alami tidak akan pernah sebanding dengan penderitaan mereka. Doaku, semoga saja akan ada berkat-berkat yang melimpah untuk mereka. Masa kecilnya yang penuh derita dapat membuat kakinya berdiri tegar kelak. Semoga saja, suatu saat nanti aku dapat mendengar bahwa Julianus Harefa telah tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan cerdas. Dan bahkan berjumpa dengannya lagi, harapku.</p>
<p>Setelah melakukan kunjungan sosial, kami menyaksikan keindahan alam Nias di <strong>Pantai Sawo</strong>. Pantainya indah, namun sepi. Kami menyantap ikan bakar, jagung bakar, dan kelapa muda. Suasana kekeluargaan terasa sekali. Padahal rata-rata kami baru saling mengenal. Suasana hangat yang penuh canda dan tawa mengiringi matahari bersembunyi dibalik langit yang semakin senja. Terpancar wajah-wajah puas dan bahagia setelah melakukan kunjungan sosial selama dua hari yang sangat berkesan itu .</p>
<p>Keesokan harinya, kami mengunjungi lokasi lompat batu di bagian selatan kepulauan Nias. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Disana terdapat sebuah perkampungan yang sangat unik, rumah-rumahnya terbuat dari kayu. Terdapat pula sebuah bangunan yang paling besar diantara yang lainnya, konon disanalah tempat tinggal Raja. Kami memasuki bangunan tersebut, besar, gelap dan masih terawat. Kami diperbolehkan duduk dan berfoto di kursi Raja dan Ratu. Setelah itu, kami melihat atraksi lompat batu yang dilakukan oleh 2 pemuda yang mengenakan pakaian adat mereka. Tepuk tangan meriah serta wajah yang terkagum-kagum dari para penonton mengiringi langkah kedua pemuda itu.</p>
<p>Setelah dari lokasi lompat batu kami mampir sebentar untuk membeli souvenir. Setelah itu, kami kembali ke hotel dan mempersiapkan diri untuk acara makan malam bersama pejabat setempat. Acara makan malam di hotel berlangsung secara kekeluargaan. Akhirnya kami tahu bahwa mereka, selaku perwakilan dari Nias, menanti-nantikan adanya para investor yang mau mananamkan modalnya di pulau Nias, agar Nias sedikit lebih berkembang. Potensi-potensi wisatanya di maksimalkan, sehingga akan ada banyak visitor yang berminat mengunjungi pulau kecil dengan sejuta keindahan itu.</p>
<p><em>Terimakasih Tango yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengikuti acara ini. Terimakasih OBI atas pengabdian kalian. Harapanku, semoga akan ada anak-anak di desa-desa lainnya yang mendapatkan kesempatan pemulihan gizi dari Tango dan OBI.<br />
</em><br />
Empat hari bersama kalian adalah pengalaman terindah dalam hidupku, pengalaman yang akan terus terbingkai manis dalam hatiku.</p>
<p><strong><em>Torōī Ami Fefu, Ya’ahowu.<br />
Saohagὅlὅ!<br />
</em></strong><br />
<em>*) Penulis adalah Duta Tango terpilih dalam program Duta Tango go To Nias yang mendapat kesempatan untuk pergi bersama dengan Tango melihat langsung program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia  (Balai Pemulihan Gizi dan Pemberian Makanan Tambahan) di Pulau Nias.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/06/oleh-oleh-dari-nias-oleh-siska-honsus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Kepada Pemenang &#8216;Duta Tango Go To Nias&#8217;</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/04/selamat-kepada-pemenang-duta-tango-go-to-nias/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/04/selamat-kepada-pemenang-duta-tango-go-to-nias/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 04:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tango Highlight]]></category>
		<category><![CDATA[Unique Info]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Duta Tango]]></category>
		<category><![CDATA[Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Selamat untuk Duta Tango Terpilih, yaitu: 

1. Kharis Fahmi Azhar &#8211; &#8216;Hari Jadi Bersama Mereka Yang Tak Mampu&#8217;
2. Siska HonSus &#8211; &#8216;Mungkin Kecil Untuk Kita, Tapi Tidak Untuk Mereka&#8217;
Kalian berhak untuk melihat langsung kegiatan Tango Peduli Gizi Anak Indonesia, yaitu: Balai Pemulihan Gizi dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Kabupaten Nias. Prepare yourself for an amazing journey!

Notes:
• Duta Tango akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><a href="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/pengumuman-pemenang-copy.jpg" target="_blank"><img class="alignleft size-medium wp-image-422" title="pengumuman pemenang copy" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/pengumuman-pemenang-copy-212x300.jpg" alt="" width="148" height="210" /></a>Selamat untuk Duta Tango Terpilih, yaitu:</em> <br />
</strong><br />
<strong><a href="http://tangopeduligizi.com/2010/04/cerita-inspiratif-dari-pemenang-duta-tango-go-to-nias/" target="_blank">1. Kharis Fahmi Azhar &#8211; &#8216;Hari Jadi Bersama Mereka Yang Tak Mampu&#8217;<br />
2. Siska HonSus &#8211; &#8216;Mungkin Kecil Untuk Kita, Tapi Tidak Untuk Mereka&#8217;</a></strong></p>
<p>Kalian berhak untuk melihat langsung kegiatan <strong>Tango Peduli Gizi Anak Indonesia</strong>, yaitu: <strong>Balai Pemulihan Gizi</strong> dan <strong>Pemberian Makanan Tambahan (PMT)</strong> di Kabupaten Nias. <em>Prepare yourself for an amazing journey!</em></p>
<p><strong><span id="more-423"></span><br />
<em>Notes:<br />
</em></strong>• Duta Tango akan melakukan kunjungan sosial ke Nias selama 4 hari 3 malam pada tanggal 18 s/d 21 Mei 2010 dan tidak dapat diwakilkan.<br />
• Duta Tango wajib melampirkan fotokopi KTP/kartu identitas lainnya serta surat ijin keberangkatan dari orangtua (bila berusia di kurang dari 17 tahun).<br />
• Info lengkap mengenai keberangkatan, schedule kegiatan dan administrasi akan diinfokan melalui messages di Facebook.<br />
• Duta Tango wajib mereply messages yang dikirimkan ke facebook masing-masing dalam waktu 2 x 24 jam sejak messages dikirimkan.<br />
• Duta Tango TIDAK DIKENAKAN BIAYA APAPUN. Seluruh biaya perjalanan, penginapan serta konsumsi ditanggung sepenuhnya oleh Tango Wafer.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/04/selamat-kepada-pemenang-duta-tango-go-to-nias/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

