<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TangoPeduliGizi.Com &#187; The Journey</title>
	<atom:link href="http://tangopeduligizi.com/category/program-journey/the-journey/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tangopeduligizi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 04:41:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cita-Cita Mereka, Anak-Anak Pedalaman NTT</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/08/cita-cita-mereka-anak-anak-pedalaman-ntt/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/08/cita-cita-mereka-anak-anak-pedalaman-ntt/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 15:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[cita-cita]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[wafer tango. peduli gizi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin Anda masih ingat dengan lagu Cita-Citaku dari Kak Ria Enes dan boneka kecilnya yang bernama Susan. Lagu yang populer di tahun 90-an itu menceritakan tentang Susan yang punya cita-cita ingin menjadi  dokter, insinyur bahkan presiden.
Semua anak berhak untuk menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Cita-citalah yang menggerakkan anak-anak untuk semangat bersekolah dan belajar dengan giat. Begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-medium wp-image-784" title="pon" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/pon-225x300.jpg" alt="" width="180" height="240" />Mungkin Anda masih ingat dengan lagu <strong>Cita-Citaku</strong> dari <strong>Kak Ria Enes</strong> dan boneka kecilnya yang bernama <strong>Susan</strong>. Lagu yang populer di tahun 90-an itu menceritakan tentang Susan yang punya cita-cita ingin menjadi  dokter, insinyur bahkan presiden.</p>
<p>Semua anak berhak untuk menggantungkan cita-citanya setinggi langit. <strong>Cita-citalah yang menggerakkan anak-anak untuk semangat bersekolah dan belajar dengan giat</strong>. Begitu juga dengan anak-anak di pedalaman NTT. Walau keadaan mereka tidak seberuntung anak-anak di kota yang fasilitas pendidikannya lengkap, mereka tetap memiliki cita-cita dan semangat untuk meraihnya. <strong>Berikut adalah cerita mereka</strong>.</p>
<p><span id="more-783"></span></p>
<p>“Namaku <strong>Ignasius Pon</strong>. Teman-teman memanggilku Pon. Umurku 8 tahun. <strong>Pon ingin jadi guru SD</strong>”. Dalam bahasa NTT,  Pon mengatakan mengapa ia  ingin menjadi guru SD. Dan alasannya adalah “Diá tombo “, (Guru bagus saat berbicara) Pon ingin seperti itu.</p>
<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-785" title="lusi" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/lusi-224x300.jpg" alt="" width="179" height="240" />Lusi ingin menjadi Perawat</strong>. Itu jawaban yang keluar dari mulut <strong>Lusiana Halima (9thn).</strong> Cita-cita ini terbersit ketika ia dirawat oleh salah satu dokter di Balai Pengobatan OBI di NTT. Ia sangat terkesan melihat cara dokter merawat dirinya dan terkagum-kagum ketika melihat steteskop serta peralatan kedokteran lainnya.</p>
<p>Lain lagi cerita yang keluar dari <strong>Yuliana Ulan Saman (8thn)</strong>. <strong>Yuli ingin menjadi guru Bahasa Indonesia</strong>. Keinginan menjadi guru ini juga tumbuh karena melihat guru pelajaran Bahasa Indonesia. Kecintaannya terhadap si guru dan pelajaran Bahasa Indonesia membuat ia kelak ingin berprofesi sebagai guru juga.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-787" title="yuli" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/yuli-225x300.jpg" alt="" width="180" height="240" />Bahkan <strong>Monica Patrisia Jelita</strong> yang masih <strong>berumur 3,5 tahun</strong> pun telah memiliki cita-cita. <strong>Cita-citanya ingin menjadi seperti bidan Ruli</strong>. Siapakah gerangan bidan Ruli yang sangat dikagumi Monic? Ternyata bidan Ruli adalah salah satu bidan di Balai Pengobatan OBI di NTT. Pelayanan bidan Ruli menyentuh hati gadis kecil ini hingga iapun bercita-cita ingin seperti bidan kesayangannya itu.</p>
<p>Yang terakhir adalah cerita dari <strong>Yenita Lesing (6thn)</strong>. <strong>Yenita juga ingin menjadi guru.</strong> Gurunya adalah idola dan juga teladan di kampungnya.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-788  alignleft" title="monic" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/monic-225x300.jpg" alt="" width="158" height="210" /><img class="alignnone size-medium wp-image-789" title="yenita" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/yenita-223x300.jpg" alt="" width="156" height="210" /></p>
<p>Demikianlah cerita anak-anak dari NTT dan cita-cita mereka. Semoga apa yang dicita-citakan akan tercapai. Percayalah bantuan kecil kita akan membuka jalan mereka meraih cita- cita. Mari dukung terus <strong>Tango Peduli Gizi Anak Indonesia.<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/08/cita-cita-mereka-anak-anak-pedalaman-ntt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CATATAN PERJALANAN WAFER TANGO KE NIAS: Pemberian Makanan Tambahan</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/06/catatan-perjalanan-wafer-tango-ke-nias-pemberian-makanan-tambahan/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/06/catatan-perjalanan-wafer-tango-ke-nias-pemberian-makanan-tambahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 04:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Pemeberian Makanan Tambahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Perjalanan Wafer Tango dan rombongan tidak berhenti hanya sampai kisah mengharukan di Balai Pemulihan Gizi. Setelah cukup beristirahat, keeesokan harinya rombongan berkunjung ke salah satu desa penerima bantuan program Pemberian Makanan Tambahan. Desa tersebut terletak di kabupaten Nias Utara dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari Gunung Sitoli. Karena medan yang ditempuh cukup berat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="size-medium wp-image-607 alignleft" title="foto awal paragraf" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/foto-awal-paragraf-300x224.jpg" alt="" width="210" height="157" />Cerita Perjalanan <strong>Wafer Tango</strong> dan rombongan tidak berhenti hanya sampai kisah mengharukan di Balai Pemulihan Gizi. Setelah cukup beristirahat, keeesokan harinya rombongan berkunjung ke salah satu desa penerima bantuan program<strong> Pemberian Makanan Tambahan</strong>. Desa tersebut terletak di kabupaten Nias Utara dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari Gunung Sitoli. Karena medan yang ditempuh cukup berat, maka rombongan menggunakan mobil strada 4 WD.<br />
<span id="more-605"></span></p>
<p style="text-align: left;">Untuk sampai kesana, kami melewati jalan berliku – liku, membelah  sungai, menerabas hutan dan mendaki bukit bebatuan yang terjal sehingga badan pun berguncang hebat. Bahkan ada salah satu anggota rombongan yang mual alias mabuk darat <img src='http://tangopeduligizi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Tetapi, sesampainya di daerah tujuan, perasaan mual, pegal hilang berganti dengan kaget luar biasa. Tarian dan adat khas daerah Nias menyambut kehadiran rombongan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-611   aligncenter" title="paragraf tengah" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/paragraf-tengah-300x112.jpg" alt="" width="300" height="112" /></p>
<p style="text-align: left;">Tari-tarian dan suara sahut-sahutan nyanyian dalam bahasa Nias menggema di lokasi. Tanpa sadar, kami  pun ikut menari dan bernyanyi bersama. Hadir disana, ketua dusun, tetua adat, dan juga perwakilan institusi pemerintahan. Mengutip perkataan <strong>Fauduaro Harefa</strong>, <em>Kepala Dusun</em>: “Tarian penyambutan merupakan penghormatan dan rasa terima kasih warga kepada <em>wafer Tango</em> dan <em>OBI</em>. Berkat uluran tangan <em>wafer Tango</em> dan <em>OBI</em>, anak-anak di dusun ini dapat kembali sehat dan orang tua mereka pun menjadi mengerti tentang pentingnya makanan bergizi bagi anak-anak mereka”.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-612 alignleft" title="DSC06006" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/DSC06006-300x224.jpg" alt="" width="210" height="157" />Siang itu, sekitar 100-an anak berkumpul di aula untuk  pemberian makanan 4 sehat 5 sempurna. Sambil menunggu mereka diberi kegiatan mewarnai. Setiap anak terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh para dokter OBI. Panas matahari yang menyengat tidak melunturkan niat dan semangat setiap orang untuk ambil bagian dalam setiap kegiatan termasuk para jurnalis. Tari-tarian yang mempesona, senyum anak-anak Nias yang begitu manis, serta keadaan alam disekitar lokasi yang mengagumkan tak boleh lepas dari mata lensa kamera.</p>
<p style="text-align: left;">Begitulah kemeriahan dan keramahan warga Nias. Walau tak seberuntung  orang-orang lainnya, mereka tetap positif memandang ke depan. Sebagai informasi tambahan, dusun tempat mereka tinggal belum dialiri oleh listrik ataupun air PAM. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan akan air, mereka harus ke sungai ataupun menampung air hujan.</p>
<p><em>Waktu perpisahan pun tiba. Tak tentu kapan lagi akan bertemu. Yang pasti kesan tentang mereka akan tetap membekas di hati.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/06/catatan-perjalanan-wafer-tango-ke-nias-pemberian-makanan-tambahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Nias oleh Siska Honsus</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/06/oleh-oleh-dari-nias-oleh-siska-honsus/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/06/oleh-oleh-dari-nias-oleh-siska-honsus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 10:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Nias]]></category>
		<category><![CDATA[Balai Pemulihan gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[OBI]]></category>
		<category><![CDATA[Perbaikan Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[PMT]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Ya’ahowu

Media Trip Program Tango Peduli Gizi anak Indonesia di Pulau Nias (18-21 Mei 2010), bersama Obor Berkat Indonesia sebagai pelaksana di lapangan dan beberapa rekan media yang turut serta bersama kami.
Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat berpikir “seperti apa ya pulau Nias itu?”
Semua terjawab ketika aku sampai di Bandara Binaka, Gunung Sitoli (18 Mei 2010). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><img class="alignleft size-medium wp-image-537" title="siska-honsus" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/siska-honsus-300x225.jpg" alt="" width="240" height="180" />Ya’ahowu<br />
</em></strong><br />
Media Trip Program <strong>Tango Peduli Gizi anak Indonesia</strong> di Pulau Nias (18-21 Mei 2010), bersama Obor Berkat Indonesia sebagai pelaksana di lapangan dan beberapa rekan media yang turut serta bersama kami.<br />
Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat berpikir “seperti apa ya pulau Nias itu?”</p>
<p><span id="more-536"></span>Semua terjawab ketika aku sampai di Bandara Binaka, Gunung Sitoli (18 Mei 2010). Dalam perjalanan, mata ku tak henti-hentinya melihat kekanan dan kekiri, terkesan dengan pulau kecil nan sederhana itu. Saat itu kami langsung menuju <strong>Balai Pemulihan Gizi</strong> yang jaraknya tidak jauh dari bandara. Disana ada sekitar belasan anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk, dirawat secara intensif oleh para dokter yang mengabdi disana. Aku tertegun melihat anak-anak disana,bahkan ketika aku mendengar cerita bahwa sebelum mereka di bawa ke Balai Pemulihan Gizi, tubuh mereka lebih kurus dari yang aku lihat saat itu.</p>
<p>Senyum manis dan riang serta tangan-tangan mungil menyambut kedatangan kami. Dalam hati aku berkata “Tuhan, inilah penerus Bangsaku nanti. Mengapa mereka begitu lemah?” Kami berkeliling melihat keadaan pasien disana, seorang anak bernama <strong>Esther Jernih W. Zega (7 thn)</strong> menarik perhatianku. Tubuhnya kurus, anggota tubuhnya tidak dapat digerakkan, ia hampir tidak dapat merespon kami, hanya dari gerakkan matanya, aku tahu matanya berbinar, tanda ia senang melihat kedatangan kami. Ditemani sang nenek, Esther kecil terus menatap kami. Aku senang mendengar kemajuan Esther, katanya berat badannya sudah naik beberapa kg selama dirawat di Balai Pemulihan Gizi.</p>
<p style="text-align: left;">Keesokan harinya, kami berangkat ke Desa Sisarahili, lokasi <strong>Pemberian Makanan Tambahan</strong>. Perjalanan disana memakan waktu sekitar 2 jam. Untuk sampai disana kami harus melewati hutan, sungai, dan sekitar setengah jam perjalanan kami harus melewati jalan berbatu. Ketika sampai di PMT, kami disambut dengan tarian daerah yang berlangsung sekitar 100 menit. Sambutan yang sungguh meriah. Sebelumnya tarian-tarian seperti itu hanya pernah aku lihat di televisi, namun saat itu aku melihatnya langsung. Perjalanan jauh nan melelahkan terbayar sudah. Sinar matahari yang menyengat tidak dihiraukannya. Kami pun tak kuasa untuk bergabung dan menari bersama, mengikuti gerak kaki tangan mereka. Penghargaan yang besar seumur hidupku.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-538   aligncenter" title="siska-sisarahili" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/siska-sisarahili-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p>Setelah mendengarkan kata-kata sambutan, kami masuk kedalam aula, disana anak-anak PMT sudah duduk rapi dan siap menyantap makanan bergizi. Aku sempat menyuapi salah seorang anak bernama <strong>Obertus (2 thn)</strong>. Ia makan dengan lahap dan dengan segera menghabiskan makanannya. Setelah makan, mereka dibagikan <strong>Wafer Tango</strong> dan Susu. Disana juga dilakukan pemeriksaan kesehatan (seperti penimbangan berat badan,pengukuran lingkar lengan, serta pemberian obat-obatan bagi yang membutuhkan) yang dilakukan oleh dokter-dokter dari OBI.</p>
<p>Senyum riang tidak hanya terpancar dari wajah mereka, tapi juga dari wajah orangtua mereka. Betapa mereka bersyukur, karena selama 3 bulan ini <strong>Tango</strong> dan <strong>OBI</strong> telah memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.<br />
Banyak pelajaran bermakna yang aku dapat disana, aku belajar bagaimana berbagi, saling mengasihi meski kami tak saling kenal sebelumnya. Dan aku bertekad bahwa tidak akan ada lagi makanan yang terbuang sia-sia.</p>
<p>Kami juga mengunjungi rumah salah satu peserta PMT, <strong>Julianus Harefa (5 thn)</strong>, bungsu dari empat bersaudara ini tinggal bersama dengan kedua orangtuanya dalam rumah berukuran 4&#215;5 meter. Mereka tidur, memasak, dan melakukan segalanya disana. Atap-atap rumahnya bocor, ketika turun hujan mereka harus mengungsi ke pinggir rumah agar tidak basah. Julianus menderita gizi buruk, kakinya <em>letter X</em>, dan diduga menderita TB paru. Hati aku menangis saat itu. Julianus kecil seharusnya menghabiskan waktu dengan bermain dan bermanjakan kasih sayang, namun ia harus menderita karena keadaan keluarganya yang tidak mampu. Setiap harinya mereka makan nasi dengan ikan asin, jika tidak ada nasi, mereka hanya makan ubi atau pisang rebus. Begitu miris kehidupan mereka.</p>
<p>Melihat keadaan Julianus, aku belajar mensyukuri apa yang aku miliki kini. Aku belajar menghargai setiap makanan yang aku makan, meskipun aku tidak menyukainya. Kehidupan yang sulit yang aku pernah alami tidak akan pernah sebanding dengan penderitaan mereka. Doaku, semoga saja akan ada berkat-berkat yang melimpah untuk mereka. Masa kecilnya yang penuh derita dapat membuat kakinya berdiri tegar kelak. Semoga saja, suatu saat nanti aku dapat mendengar bahwa Julianus Harefa telah tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan cerdas. Dan bahkan berjumpa dengannya lagi, harapku.</p>
<p>Setelah melakukan kunjungan sosial, kami menyaksikan keindahan alam Nias di <strong>Pantai Sawo</strong>. Pantainya indah, namun sepi. Kami menyantap ikan bakar, jagung bakar, dan kelapa muda. Suasana kekeluargaan terasa sekali. Padahal rata-rata kami baru saling mengenal. Suasana hangat yang penuh canda dan tawa mengiringi matahari bersembunyi dibalik langit yang semakin senja. Terpancar wajah-wajah puas dan bahagia setelah melakukan kunjungan sosial selama dua hari yang sangat berkesan itu .</p>
<p>Keesokan harinya, kami mengunjungi lokasi lompat batu di bagian selatan kepulauan Nias. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Disana terdapat sebuah perkampungan yang sangat unik, rumah-rumahnya terbuat dari kayu. Terdapat pula sebuah bangunan yang paling besar diantara yang lainnya, konon disanalah tempat tinggal Raja. Kami memasuki bangunan tersebut, besar, gelap dan masih terawat. Kami diperbolehkan duduk dan berfoto di kursi Raja dan Ratu. Setelah itu, kami melihat atraksi lompat batu yang dilakukan oleh 2 pemuda yang mengenakan pakaian adat mereka. Tepuk tangan meriah serta wajah yang terkagum-kagum dari para penonton mengiringi langkah kedua pemuda itu.</p>
<p>Setelah dari lokasi lompat batu kami mampir sebentar untuk membeli souvenir. Setelah itu, kami kembali ke hotel dan mempersiapkan diri untuk acara makan malam bersama pejabat setempat. Acara makan malam di hotel berlangsung secara kekeluargaan. Akhirnya kami tahu bahwa mereka, selaku perwakilan dari Nias, menanti-nantikan adanya para investor yang mau mananamkan modalnya di pulau Nias, agar Nias sedikit lebih berkembang. Potensi-potensi wisatanya di maksimalkan, sehingga akan ada banyak visitor yang berminat mengunjungi pulau kecil dengan sejuta keindahan itu.</p>
<p><em>Terimakasih Tango yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengikuti acara ini. Terimakasih OBI atas pengabdian kalian. Harapanku, semoga akan ada anak-anak di desa-desa lainnya yang mendapatkan kesempatan pemulihan gizi dari Tango dan OBI.<br />
</em><br />
Empat hari bersama kalian adalah pengalaman terindah dalam hidupku, pengalaman yang akan terus terbingkai manis dalam hatiku.</p>
<p><strong><em>Torōī Ami Fefu, Ya’ahowu.<br />
Saohagὅlὅ!<br />
</em></strong><br />
<em>*) Penulis adalah Duta Tango terpilih dalam program Duta Tango go To Nias yang mendapat kesempatan untuk pergi bersama dengan Tango melihat langsung program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia  (Balai Pemulihan Gizi dan Pemberian Makanan Tambahan) di Pulau Nias.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/06/oleh-oleh-dari-nias-oleh-siska-honsus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Esther, Salah Satu Pasien Balai Pemulihan Gizi</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/05/kisah-esther-salah-satu-pasien-balai-pemulihan-gizi/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/05/kisah-esther-salah-satu-pasien-balai-pemulihan-gizi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 04:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Nias]]></category>
		<category><![CDATA[OBI]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=476</guid>
		<description><![CDATA[Di awal bulan April 2010, tim wafer Tango berkesempatan untuk mendatangi langsung lokasi Balai Pemulihan Gizi  (BPG) dan menemui anak-anak beneficiary Program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia di pulau Nias. Untuk sampai ke pulau Nias, maka kita harus terbang dahulu dari Jakarta ke Medan dan kemudian melanjutkan penerbangan ke Gunung Sitoli-Nias dengan pesawat baling-baling. Maklum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-477" title="Esther" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/Esther-232x300.jpg" alt="" width="162" height="210" />Di awal bulan April 2010, tim wafer Tango berkesempatan untuk mendatangi langsung lokasi <strong>Balai Pemulihan Gizi  (BPG)</strong> dan menemui anak-anak <em>beneficiary</em> <strong>Program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia di pulau Nias</strong>. Untuk sampai ke pulau Nias, maka kita harus terbang dahulu dari Jakarta ke Medan dan kemudian melanjutkan penerbangan ke Gunung Sitoli-Nias dengan pesawat baling-baling. Maklum, yang bisa mendarat disana hanya pesawat jenis <em>Fokker</em>.</p>
<p><span id="more-476"></span><br />
Sesampainya disana, kita telah disambut oleh tim <strong>OBI</strong> (program partner Tango Peduli Gizi Anak Indonesia) dan langsung menuju Balai Pemulihan Gizi. Di BPG  kita langsung bertatap muka  dengan 12 pasien anak yang sedang dirawat. Mereka pada umumnya ditemani oleh ibu, nenek atau saudara perempuannya. Ada 1 pasien yang menarik perhatian khusus tim wafer Tango, namanya <strong>Esther Jernih W. Zega (7 thn)</strong>.</p>
<p>Ketika kita mendengar cerita mengenai Esther, rasanya airmata tak tertahan. Esther masuk BPG pertama kali dengan kondisi memprihatinkan. Di umurnya yang 7 tahun, berat badan Esther hanya 7,5 kg. Tubuhnya hanya tinggal tulang berbalut kulit sehingga untuk menggerakkan badan saja ia tak mampu. Karena tak bisa bergerak, maka sekujur tubuh belakang Esther menderita luka-luka. Ketika kita datang untuk melihat Esther, ia sudah 2 bulan berada di BPG. Dibawah perawatan intensif para dokter di BPG dan neneknya yang selalu setia menemani, kondisi Esther perlahan-lahan mulai membaik. Berat badan Esther telah naik 4 kg, luka di belakang bagian tubuhnya pun mulai sembuh. Mata anak kecil tersebut mulai menunjukkan binar-binar cahaya. Tak sabar rasanya menunggu Esther bisa bermain seperti anak kecil lainnya.</p>
<p>Mari dukung terus Program Tango Peduli Gizi Anak Indonesi. Dan mari kita terus  mendoakan agar tidak ada lagi anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi seperti Esther. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/05/kisah-esther-salah-satu-pasien-balai-pemulihan-gizi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seulas Senyum di Wajah Julianus Harefa</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/03/seulas-senyum-di-wajah-julianus-harefa/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/03/seulas-senyum-di-wajah-julianus-harefa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 03:43:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[peduli gizi]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Ketika uluran tangan mampu merubah duka menjadi suka. …Ketika kaki kecil dapat melangkah riang mengikuti teman seumuran-nya……Ketika akhirnya senyum tersungging di wajahnya…ya, dia adalah Julianus Harefa (3thn), salah satu anak yang mengikuti program perbaikan gizi dari wafer Tango.

Pertama kali ketika tim dari wafer Tango dan OBI mengunjunginya, tubuh-nya kurus dan sorot matanya pun redup. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/Julianus.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-359" title="Julianus" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/Julianus.jpg" alt="" width="194" height="193" /></a>Ketika uluran tangan mampu merubah duka menjadi suka. …Ketika kaki kecil dapat melangkah riang mengikuti teman seumuran-nya……Ketika akhirnya senyum tersungging di wajahnya…ya, dia adalah <strong>Julianus Harefa (3thn)</strong>, salah satu anak yang mengikuti program <strong>perbaikan gizi dari wafer Tango.</p>
<p></strong></em></p>
<p><span id="more-357"></span>Pertama kali ketika tim dari wafer <strong>Tango </strong>dan <strong>OBI</strong> mengunjunginya, tubuh-nya kurus dan sorot matanya pun redup. Ia ingin bermain riang seperti anak seusianya. Tetapi, posturnya yang terlihat sangat ringkih tidak selincah anak-anak lain yang seusia dengannya.</p>
<p>Kini sudah hampir 2 bulan Julianus dan Kakaknya, Mariska Harefa (5thn) mengikuti program <strong>pemberian makanan tambahan (PMT)</strong>  yang dilakukan wafer Tango &amp; OBI di Kabupaten Nias. Dalam waktu 1 bulan, berat badannya bertambah 0,6 kg. Tidak hanya itu, sekarang Julianus terlihat lebih segar dan bergairah.  Sorot matanya terlihat bersinar. Tentu perubahan ini membuat kedua orang tua Julianus bahagia. Dan kita percaya, perubahan ini juga membuat Anda semua bahagia.</p>
<p><em>Kembalinya senyum Julianus adalah berkat Anda-Anda semua. Mari, dukung terus <strong>Program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia</strong>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/03/seulas-senyum-di-wajah-julianus-harefa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dini Zega: Ibu, Aku Makan Makanan Bergizi Hari Ini…</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/03/dini-zega-ibu-aku-makan-makanan-bergizi-hari-ini/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/03/dini-zega-ibu-aku-makan-makanan-bergizi-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 04:35:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chicha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[Tango Peduli Gizi Anak Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wafer Tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[ 
“Ina, no’u’a go sami ba sehat ma’Ocho. Saohagolo Tango ba OBI”, ujar Dini Aman Zega (5thn) dalam bahasa asli Nias.
Kalimat tersebut diartikan: “Ibu, aku makan enak dan bergizi hari ini. Terima kasih untuk Wafer Tango dan OBI”. 
Dini dan adiknya,  Jelita Zega (2 thn) ikut dalam program pemberian makanan tambahan (PMT) Kabupaten Nias. Ayah-Ibu mereka, Nahesi Zega [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-285" href="http://tangopeduligizi.com/2010/03/dini-zega-ibu-aku-makan-makanan-bergizi-hari-ini/nahesi-zega-3/"><em> </em></a></p>
<p><a href="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/nahesi-zega.jpg"><img class="size-full wp-image-401 alignleft" title="nahesi zega" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/nahesi-zega.jpg" alt="" width="140" height="135" /></a>“Ina, no’u’a go sami ba sehat ma’Ocho. Saohagolo Tango ba OBI”, ujar <strong>Dini Aman Zega (5thn)</strong> dalam bahasa asli Nias.</p>
<p>Kalimat tersebut diartikan: “Ibu, aku makan enak dan bergizi hari ini. Terima kasih untuk Wafer Tango dan OBI”. </p>
<p><span id="more-288"></span>Dini dan adiknya,  <strong>Jelita Zega (2 thn)</strong> ikut dalam program pemberian makanan tambahan (PMT) Kabupaten Nias. Ayah-Ibu mereka, <strong>Nahesi Zega</strong> dan <strong>Deslina Zega</strong> bekerja sebagai penderes karet dan bersawah. Penghasilan mereka tak tentu. “Sebagai penderes karet dan menggarap sawah orang lain, penghasilan kami tak tentu dan sangat bergantung kepada cuaca. Hujan membuat kami tidak dapat bekerja maksimal, sehingga kami hanya bisa meraup 200 – 300 ribu /bulan. Sedangkan kalau hari panas, pendapatan kami bisa mencapai 500 – 700 ribu/bulan”, kata sang ayah, Nahesi Zega.</p>
<p>Kehidupan ekonomi yang pas- pas-an dan tidak stabil membuat keluarga kecil ini hanya mengkonsumsi makanan seadanya dan jauh dari bergizi. Sarapan pagi mereka hanyalah pisang, siang barulah mereka dapat makan nasi dan kalau ada sisa malam hari mereka dapat makan nasi sisa makan siang, namun kalau tidak ada terpaksa mereka mengisi perut dengan ubi. Lauknya pun jauh dari beragam. Ikan asin, teri yang digoreng  ditambah dengan singkong rebus biasa menjadi santapan sehari-hari. Daging, ayam, ikan hanya hadir dalam impian.</p>
<p>Walaupun sudah bekerja keras, kehidupan perekonomian mereka tetap saja tidak membaik, namun mereka tidak jenuh bekerja. Setiap cucuran peluh yang mereka keluarkan hanya untuk kedua buah hatinya. Pagi-pagi sekali pasangan suami-istri itu berangkat untuk menderes karet dan kembali pulang ketika senja menjelang. Sebenarnya, harapan kedua orangtua itu sangatlah sederhana. Setidaknya, mereka ingin kedua anak mereka dapat  mengkonsumsi makanan bergizi sehingga mereka dapat tumbuh sehat dan kelak menjadi pemuda-pemudi yang berguna bagi desanya.</p>
<p><strong>Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Menjawab Harapan Mereka</strong></p>
<p>Banyaknya keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi seperti keluarga Nahesi Zega, menggerakan <strong>Wafer Tango</strong> untuk mengadakan PMT di Kabupaten Nias sebagai bagian dari kegiatan <strong>Tango Peduli Gizi Anak Indonesia</strong>. Bekerja sama dengan Yayasan OBI, Wafer Tango membantu perbaikan asupan nutrisi anak-anak di daerah tersebut agar dapat tumbuh sehat dan cerdas.</p>
<p>Hadirnya PMT di Kabupaten Nias  menjawab harapan dari pasangan suami istri itu. Walau setiap hari mereka harus berjalan 2 km agar dapat sampai di lokasi PMT. “Demi anak-anak, apapun akan kami lakukan. Yang penting anak-anak dapat menikmati makanan enak dan sehat”, papar Ibu yang kulitnya menghitam karena terbakar matahari ini.</p>
<p>Guratan lelah di wajah kedua orang tersebut  karena perjalanan panjang hilang begitu melihat kedua anak mereka dengan senangnya melahap makanannya. “Saya sangat bersyukur dan senang, sekarang anak-anak saya bisa makan-makanan yang enak-enak dan bergizi dengan adanya program makanan tambahan di desa kami. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Wafer Tango dan OBI atas bantuan pemberian makanan tambahan di desa kami. Kiranya Tango dan OBI semakin jaya”, tutup Nahesi Zega dengan polos.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/03/dini-zega-ibu-aku-makan-makanan-bergizi-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekelumit Kisah dari Desa Sisarahili</title>
		<link>http://tangopeduligizi.com/2010/02/sekelumit-kisah-dari-desa-sisarahili/</link>
		<comments>http://tangopeduligizi.com/2010/02/sekelumit-kisah-dari-desa-sisarahili/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 20:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tango admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program & Journey]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey]]></category>
		<category><![CDATA[anak indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[peduli gizi]]></category>
		<category><![CDATA[tango]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tangopeduligizi.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Julianus (5 tahun) adalah salah satu anak yang tinggal di Desa Sisarahili, Dusun 2,  Kabupaten Nias. Di usianya yang masih sangat belia ini, Julianus seharusnya dapat menikmati masa kecilnya dengan tumbuh sebagai seorang anak yang lincah. Tetapi sayang, kondisinya tidak memungkinkan ia untuk bermain seperti anak-anak normal sebayanya.

Masalahnya Julianus menderita kekurangan gizi. Tubuhnya kurus, perutnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="julianus" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/julianus_11.jpg" alt="" width="160" height="106" align="left" /><strong>Julianus</strong> <strong>(5 tahun)</strong> adalah salah satu anak yang tinggal di <strong>Desa Sisarahili, Dusun 2,  Kabupaten Nias</strong>. Di usianya yang masih sangat belia ini, Julianus seharusnya dapat menikmati masa kecilnya dengan tumbuh sebagai seorang anak yang lincah. Tetapi sayang, kondisinya tidak memungkinkan ia untuk bermain seperti anak-anak normal sebayanya.<br />
<span id="more-16"></span><br />
Masalahnya Julianus menderita kekurangan gizi. Tubuhnya kurus, perutnya buncit  dan mukanya pucat. Keadaan tersebut diperparah dengan kakinya yang berbentuk <em>letter</em> X. Ia tinggal di rumah yang tidak bisa disebut layak bersama kedua orangtua dan saudara-saudaranya.  Ia dan keluarganya bernaung di rumah seluas 4&#215;5 meter.  Atapnya bocor,  lembab dan tidak tertata baik.  Disanalah semua aktivitas kehidupan Julianus dan keluarganya berlangsung, mulai dari memasak hingga tidur. Hal ini disebabkan keadaan ekonomi keluarga Julianus yang jauh di bawah garis kemiskinan. </p>
<p>Keluarga Julianus menggantungkan hidup hanya dari hasil alam yang terdapat di lingkungan tempat tinggal mereka. Kondisi kehidupan seperti ini tak hanya dialami keluarga Julianus, namun menimpa juga keluarga-keluarga lain di Desa Sisarahili.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-19" title="julianus" src="http://tangopeduligizi.com/wp-content/fileuploads/julianus.jpg" alt="" width="391" height="130" /></p>
<p>Dengan menggunakan bahasa daerah, Ibunda Julianus bercerita bahwa belum tentu setiap hari mereka makan nasi. Tak jarang mereka hanya makan nasi sehari sekali. Apabila tidak ada nasi, terpaksa mereka hanya memakan singkong untuk menahan rasa lapar. Dari pengakuan ini, tak heran jika Julianus kecil menderita kekurangan gizi.</p>
<p>Kondisi serba berkekurangan ini bukanlah hal baru di Desa Sarasahili, bahkan telah dianggap wajar. Menurut  Ketua Dusun 2 Desa Sisarahili,<strong> Fauduaru Harefa</strong>,<em> </em>setiap keluarga di desa ini memiliki  5 hingga 12 anak dalam satu keluarga. Hal ini tidak diimbangi dengan tingkat pendapatan yang memadai. “Hidup mereka susah, jadi tidak mungkin mereka bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik,”<em> </em>ujar Fauduaru.</p>
<p>Berangkat dari keadaan inilah, <strong>Wafer Tango</strong> dan <strong>Yayasan Obor Berkat Indonesia</strong> hadir di sana untuk mengulurkan bantuan. Tujuannya sederhana, agar anak seperti Julianus dapat tumbuh normal dan  menikmati masa kecilnya bermain bersama teman-temannya. Julianus juga diharapkan kelak dapat menjadi pemuda bangsa yang cerdas. Oleh karena itu, Wafer Tango mengajak segenap masyarakat untuk bersama-sama membantu mereka. Bantuan kecil kita adalah harapan bagi mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tangopeduligizi.com/2010/02/sekelumit-kisah-dari-desa-sisarahili/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

