Memperingati hari gizi dan makanan yang jatuh tanggal 25 Januari 2012 kemarin, dalam rangkaian Tango Peduli Gizi, Tango Wafer kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap gizi anak Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut adalah program perdana Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di desa Rabak, Bogor; Diskusi bersama pakar gizi kesehatan masyarakat UI, dr. Saptawati Bardosono, M.Sc; serta konsultasi gizi bersama @drIdaGunawan, ahli gizi klinis secara online bersama @mommiesdaily dan @wafer_tango. Konsultasi yang telah lalu ternyata menarik minat banyak Ibu. Dan berikut kami hadirkan rangkumannya, agar para Ibu Indonesia memiliki pengetahuan yang lebih banyak lagi mengenai gizi anak. (more…)
Desa Rabak, adalah salah satu desa yang berada di timur Kota Bogor. Bagi kita yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, mungkin desa ini terkesan tidak jauh dan mudah dijangkau. Tapi, jangan salah, untuk mencapai desa ini, kita masih harus melakukan perjalanan kurang lebih 1,5 jam jauhnya dari Sentul Selatan. Setelah melewati jalan rusak dan berbatu, barulah kita akan tiba di Desa Rabak yang dipenuhi hamparan sawah. Indah, namun ironisnya ternyata hampir 70%, anak- anak bayi dan balita yang tinggal disini, mengalami keadaan gizi dibawah rata- rata. (more…)
Brian, salah satu anak yang dulu dirawat di Balai Pemulihan Gizi Tango dan kini sudah sembuh.
“Balai Pemulihan Gizi Tango terbuka bagi anak Nias yang menderita gizi buruk. Di bawah perawatan dokter anak berpengalaman, anak- anak akan dirawat dan diobati secara intensif dan semua biaya ditanggung oleh Tango. Namun ada satu syarat yang diajukan yaitu harus didampingi ibu atau seorang kerabat,” begitulah penjelasan yang selalu kami berikan mengenai prasyarat agar seorang anak dapat mendapatkan perawatan di Balai Pemulihan Gizi Tango. Syarat yang sederhana. Dan syarat itu pun dibuat agar kelak si pendamping dapat meneruskan cara merawat anak dengan baik. (more…)
Selfin Giaman Telaumbanua (14 bulan), anak pertama dari pasangan Aninano Telaumbanua (29) dan Rosmida Laila (28) ini merupakan salah seorang pasien gizi buruk, yang sampai sekarang masih menjalani perawatan di Balai Pemulihan Gizi (BPG) -Tango di Nias. “Sejak umur tiga bulan, anak saya sering demam bahkan pernah suatu saat sampai mengalami kejang-kejang. Selfin keadaannya sangat kurus dan pucat sekali. Mau dibawa kerumah sakit, tapi uang kami tidak punya karena penghasilan suami saya hanya 130 ribu per bulan dan hanya cukup buat makan sehari-hari. Untung saya dikenalkan dengan BPG OBI- Tango , yang akhirnya merawat anak saya dan semuanya gratis.” Kenang Rosmida. (more…)
“Kami senang dengan hadirnya TANGO di desa Sisarahili. Kami adalah desa yang sangat beruntung bisa mendapat bantuan PMT, dan dua anak saya (Ifoeraera Harefa, 3 tahun dan Arma Jaya Harefa, 2 bulan)ikut dalam program ini. Saya sangat merasakan perubahan yang terjadi pada anak-anak saya sejak ikut program PMT. Mereka selalu ceria dan bisa belajar banyak hal; menggambar, bernyanyi dan bermain. Setelah selasai kegiatan makan, anak-anak kami diberi susu, wafer tango dan buah-buahan. Saya sangat senang TANGO memberikan bantuan yang sangat bermanfaat bagi anak-anak kami. Terima kasih Tango. Dua anak saya terbebas dari gizi buruk.” Ungkap Adisia Harefa (ibu dari Ifoeraera dan Arma Jaya Harefa). (more…)
Terima kasih atas partisipasi teman- teman semua pada program “SAHABAT TANGO SPREAD MIRACLES”. Tango sangat mengapresiasi semangat teman- teman dalam mewujudkan kebiasaan berbagi. Setelah melalui tahapan penilaian, dengan bangga Tango mengumumkan nama- nama project yang paling inspiratif dan aplikatif.
1. “5 for Everyone” (oleh: Lilis Suryani)
“5 for Everyone” adalah judul buku yang berkisah tentang anak jalanan yang dirangkum dan dicetak dalam sebuah buku kecil berupa seperti diary anak anak (pocket book). Buku itu akan dihias oleh sang anak, Karina. Buku ini akan terbit tiap bulan pada minggu ke 2 dan dijual ke gereja maupun berbagai toko rohani. Bagi para pembaca yang ingin menyumbang untuk 5 anak jalanan tersebut, dibuku tersebut telah dicantumkan no telp Lilis dan Karina sebagai posko sumbangan. (more…)
Sejak diluncurkannya awal tahun 2010 ini, Tango Peduli Gizi Anak Indonesia telah membantu lebih dari 500 anak kekurangan gizi melalui kegiatan Pemberian Makanan Tambahan dan Balai Pemulihan Gizi. Namun jumlah ini memang tidak seberapa dibanding dengan dalamnya kebahagiaan yang mereka rasakan atas bantuan ini.
Melihat efek yang besar dari program Tango Peduli Gizi yang telah dijalankan, kini Tango meluncurkan Program Sahabat Tango Spread Miracles, program yang diciptakan untuk memotivasi Ibu dan Anak untuk menjadikan “Berbagi” sebagai sebuah kebiasaan. Dalam program ini Ibu dan Anak diajak untuk membuat projek berbagi yang dapat dikerjakan bersama.
KETENTUAN LOMBA :
Buatlah sebuah Projek BERBAGI yang dapat dilakukan bersama Anda dan Buah Hati Anda
Projek sebaiknya merupakan ide dari anak dan Anda yang mengarahkannya
Tuliskan Projek yang akan Anda lakukan tersebut minimal dalam 1 halaman A4, dan sertakan harapan Anda akan Projek tersebut.
Projek sebaiknya bersifat aplikatif dan memungkinkan untuk direliasasikan
Kirimkan tulisan Anda ke :
Gedung Plaza Kelapa Dua, lt.2
Jl. Panjang no.29, Kebon Jeruk
Jakarta Barat 11550
Attn: Public Relations OTG (Tuliskan Sahabat Tango Spread Miracles di bagian kanan atas Amplop)
atau melalui email ke:
pr@ot.co.id dengan Subjek: Sahabat Tango Spread Miracles
KRITERIA PENILAIAN:
Bukan pada keindahan tulisan, namun pada Projek yang dibuat.
Projek harus original dan unik.
Ide Projek harus aplikatif, memungkinkan untuk direalisasikan.
APRESIASI TANGO UNTUK ANDA:
Juara I - Uang tunai 2,5 JT rupiah, Paket dari KidZania dan Produk menarik dari Tango
Juara II – Uang tunai 1,5 JT rupiah, Paket dari KidZania dan Produk menarik dari Tango
Juara III – Uang tunai 1 JT rupiah, Paket dari KidZania dan Produk menarik dari Tango
Hai, Om, Tante dan teman-teman. Namaku Aurelia Gracelia Jelalu. Keluarga dan teman-teman memanggilku Lia. Aku tinggal di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Umurku delapan tahun. Saat ini aku masih duduk di kelas 2 SD. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang perempuan bernama Fantirelia Jelalu. Fanti belum sekolah karena umurnya masih enam tahun. Sedangkan adikku yang kedua, laki-laki, namanya Yofet Petrus Jelalu. Umurnya masih baru 2,5 tahun. Ia tak pernah mau lepas dari gendongan ibu. Ayahku, Petrus Jelalu bekerja sebagai buruh tani. Sedangkan ibuku, Paulina Ida tidak bekerja. Kehidupan kami sangat sederhana. (more…)