Mungkin Anda masih ingat dengan lagu Cita-Citaku dari Kak Ria Enes dan boneka kecilnya yang bernama Susan. Lagu yang populer di tahun 90-an itu menceritakan tentang Susan yang punya cita-cita ingin menjadi dokter, insinyur bahkan presiden.
Semua anak berhak untuk menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Cita-citalah yang menggerakkan anak-anak untuk semangat bersekolah dan belajar dengan giat. Begitu juga dengan anak-anak di pedalaman NTT. Walau keadaan mereka tidak seberuntung anak-anak di kota yang fasilitas pendidikannya lengkap, mereka tetap memiliki cita-cita dan semangat untuk meraihnya. Berikut adalah cerita mereka.
Hai, Om, Tante dan teman-teman. Namaku Aurelia Gracelia Jelalu. Keluarga dan teman-teman memanggilku Lia. Aku tinggal di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Umurku delapan tahun. Saat ini aku masih duduk di kelas 2 SD. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang perempuan bernama Fantirelia Jelalu. Fanti belum sekolah karena umurnya masih enam tahun. Sedangkan adikku yang kedua, laki-laki, namanya Yofet Petrus Jelalu. Umurnya masih baru 2,5 tahun. Ia tak pernah mau lepas dari gendongan ibu. Ayahku, Petrus Jelalu bekerja sebagai buruh tani. Sedangkan ibuku, Paulina Ida tidak bekerja. Kehidupan kami sangat sederhana. (more…)
Cerita Perjalanan Wafer Tango dan rombongan tidak berhenti hanya sampai kisah mengharukan di Balai Pemulihan Gizi. Setelah cukup beristirahat, keeesokan harinya rombongan berkunjung ke salah satu desa penerima bantuan program Pemberian Makanan Tambahan. Desa tersebut terletak di kabupaten Nias Utara dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari Gunung Sitoli. Karena medan yang ditempuh cukup berat, maka rombongan menggunakan mobil strada 4 WD. (more…)
Tanggal 18 – 21 Mei yang lalu, merupakan perjalanan yang tidak akan kami lupakan. Di tanggal tersebut, Tim Tango, duta Tango terpilih dan perwakilan media massaberkesempatan mengunjungi anak – anak beneficiary program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia di Nias. Perjalanan ke Nias memakan waktu sekitar setengah hari karena tidak ada penerbangan langsung menuju pulau tersebut. Kami harus berangkat menuju Medan dahulu baru kemudian melanjutkan penerbangan dengan pesawat baling-baling menuju ibu kota Nias, yaitu: Gunung Sitoli. (more…)
Media Trip Program Tango Peduli Gizi anak Indonesia di Pulau Nias (18-21 Mei 2010), bersama Obor Berkat Indonesia sebagai pelaksana di lapangan dan beberapa rekan media yang turut serta bersama kami.
Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat berpikir “seperti apa ya pulau Nias itu?”
Di awal bulan April 2010, tim wafer Tango berkesempatan untuk mendatangi langsung lokasi Balai Pemulihan Gizi (BPG) dan menemui anak-anak beneficiaryProgram Tango Peduli Gizi Anak Indonesia di pulau Nias. Untuk sampai ke pulau Nias, maka kita harus terbang dahulu dari Jakarta ke Medan dan kemudian melanjutkan penerbangan ke Gunung Sitoli-Nias dengan pesawat baling-baling. Maklum, yang bisa mendarat disana hanya pesawat jenis Fokker.
Ketika uluran tangan mampu merubah duka menjadi suka. …Ketika kaki kecil dapat melangkah riang mengikuti teman seumuran-nya……Ketika akhirnya senyum tersungging di wajahnya…ya, dia adalah Julianus Harefa (3thn), salah satu anak yang mengikuti program perbaikan gizi dari wafer Tango.
Mari tunjukan kepedulian Anda kepada anak Indonesia dan Mari berbuat kebaikan untuk anak Indonesia yang lebih baik!
Feri Madao - Mudah2an kegitan seperti ini rutin dilakukan. Tidak hanya pas… galih - Tetap tersenyum yahhhhhh...!!!!… banyu - adeek-adek...semangat yah..semoga bisa segera bermain kaya anak-anak lainnya...aminnnnn… banyu - semoga kakak kaka semua diberkahi...amin GBU… Siska HonSus - lucuuunyaaa...…