Tango Wafer


obor berkat indonesia

TANGO TERUS BANTU PERBAIKI GIZI ANAK INDONESIA MELALUI PROGRAM “TANGO PEDULI GIZI 2011”

Fact Sheet, Media Room

Fokus pada pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan guna bantu pertahankan status gizi anak

JAKARTA, 22 Juli, 2011 – Sebagai wujud kepedulian dalam memperbaiki kondisi gizi anak Indonesia dan menciptakan masa depan yang lebih baik, Wafer Tango bekerjasama dengan Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI) kembali meluncurkan program Tango Peduli Gizi (TPG) Anak Indonesia 2011. Acara peluncuran ini diadakan berdekatan dengan peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2011.

Pada hari ini, Wafer Tango bersama dengan Yayasan OBI juga memberikan paparan kinerja program Tango Peduli Gizi 2010 yang telah berlangsung dari Januari 2010 sampai Juli 2011. Acara yang berlangsung di Atrium Pejaten Village ini dihadiri oleh Ir. Asih Setiarini, MSc.b., Spesialis Gizi Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Yuna Eka Kristina, PR Manager OT Group dan dr. Monik Silalahi, social worker OBI sekaligus pelaksana lapangan program Tango Peduli Gizi di Nias (Sumatra Utara).

Tango Peduli Gizi 2011 dititikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan di wilayah Nias, Sumatera Utara. Wafer Tango berharap bahwa program TPG 2011 ini mampu membantu keluarga Nias untuk mempertahankan kondisi kesehatan dan status gizi anak yang telah pulih setelah mengikuti program TPG 2010.

Yuna Eka Kristina, PR Manager OT Group menyatakan bahwa “Peluncuran program Tango Peduli Gizi 2011 ini berdasar pada hasil evaluasi kami terhadap program Tango Peduli Gizi 2010 yang telah terbukti efektif dalam memperbaiki kondisi kesehatan dan meningkatan status gizi anak-anak Nias. Namun sayangnya ketika dilakukan evaluasi pasca mereka kembali ke rumah masing- masing, mereka terindikasi kesulitan untuk mempertahankan kondisi yang telah “pulih” tersebut.”

Program Tango Peduli Gizi 2010 terdiri dari dua aktivitas besar yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan gizi seimbang yang diberikan setiap hari selama 3 bulan kepada 526 anak berumur diatas enam bulan hingga 12 tahun di Nias dan Ruteng, serta Balai Pemulihan Gizi (BPG) Tango yang memberikan perawatan intensif terhadap 72 anak dengan gizi buruk di Nias.

Tango mendapati 95 persen anak- anak yang mengikuti PMT meningkat status gizinya dari gizi kurang ke gizi baik dengan rata-rata berat badan anak meningkat 1 kg, rata-rata lingkar lengan atas anak meningkat sekitar 1 cm, dan rata-rata tinggi badan anak meningkat sekitar 2 cm. Sedangkan 5 persen sisanya tidak mengalami kenaikan berat badan, namun mengalami perkembangan yang signifikan terhadap keceriaan dan daya tahan tubuh mereka.

Sedangkan setiap anak dengan status gizi buruk dibawa ke Balai Pemulihan Gizi Tango. Rata- rata anak- anak akan membaik kondisinya setelah dirawat intensif selama 3-4 bulan. Namun jika terdapat penyakit penyerta seperti TB Paru dan kelainan sistem syaraf, rata-rata status gizi dan kondisi kesehatan membaik setelah mengikuti program pemulihan selama 4-6 bulan. Selama dirawat di BPG, anak didampingi oleh ibu mereka dan ibu mendapat penyuluhan pengolahan makanan. 100 persen anak yang sudah dinyatakan “pulih” pulang dari BPG Tango dengan kondisi gizi yang meningkat ke gizi baik dengan  rata-rata berat badan anak meningkat 2 kg, rata-rata lingkar lengan atas anak meningkat sekitar 2 cm, dan rata-rata tinggi badan anak meningkat sekitar 4 cm.

Setelah kedua program tersebut selesai dilaksanakan, dilakukan evaluasi terhadap kondisi gizi mereka pasca kembali ke rumah. Dari 100 persen anak BPG yang telah “pulih”, 50-60 persen anak terindikasi sulit bertahan pada status gizi baik dan bila tidak segera dilakukan tindakan preventif kemungkinan dapat menurun status gizinya ke gizi kurang. Ditengarai rendahnya faktor ekonomi yang menyebabkan tidak adanya sumber makanan yang bisa menjadi asupan gizi bagi mereka; kurangnya pengetahuan untuk membudidayakan, memanfaatkan dan mengolah sumber daya alam yang tersedia; serta buruknya sanitasi tempat tinggal yang fungsinya menyatu antara tempat tidur dan dapur serta tidak adanya fasilitas MCK menjadi penyebabnya.

“Hasil evaluasi membawa kami kepada satu kesimpulan yaitu untuk membantu mereka terbebas dari masalah gizi, tidak cukup hanya memberi kail dan ikannya, namun melengkapi itu, mereka juga harus diberikan pendampingan agar mereka tahu benar apa yang harus dilakukan. Karenanya guna membantu keluarga mempertahankan kondisi kesehatan dan gizi anak-anak ketika mereka kembali di rumahnya masing-masing, kami meluncurkan program TPG di tahun 2011 ini yang menitikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan. Kami menyadari bahwa untuk membantu anak-anak Indonesia terlepas dari masalah gizi diperlukan pendekatan komprehesif yang mampu mencakup peningkatan kondisi ekonomi keluarga, pengembangan pengetahuan dan pemahaman keluarga mengenai gizi dan wirausaha serta rehabilitasi kondisi sanitasi lingkungannya,” tambah Yuna.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Ir. Asih Setiarini, MSc.b., Spesialis Gizi Kesehatan Masyarakat dari FKM-UI yang juga hadir pada acara peluncuran ini. Beliau menyatakan bahwa, “Gizi buruk di Indonesia disebabkan multi faktor, diantaranya faktor ekonomi, pendidikan, politik dan sosial budaya. Program rehabilitasi yang terdiri dari pemberian bantuan pangan dan intervensi medis sifatnya hanya darurat kuratif jangka pendek. Diperlukan sebuah pendekatan program yang komprehensif untuk dapat mendorong perubahan perilaku dan membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang hingga mampu memperbaiki kondisinya sendiri. Jadi menurut saya, solusi untuk menyelesaikan permasalahan gizi di Indonesia ada di tangan masyarakat itu sendiri dan membutuhkan kemauan dan komitmen besar dari berbagai pihak termasuk warga masyarakat untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan gizi mereka.”

“Saya melihat program Tango Peduli Gizi telah mendapat cukup pengalaman dari kontribusinya di tahun 2010 dan mengembangkannya di tahun 2011 dengan pendekatan program yang lebih komprehensif. Program ini akan menciptakan komitmen keluarga untuk mau berusaha dan memperbaiki pola asuhnya dan itu akan bermanfaat untuk jangka panjang,” tambah  Ibu Asih.

Program TPG 2011 akan meliputi tiga titik kegiatan yaitu: pemberdayaan ekonomi keluarga dengan memberikan modal benih ternak dan bibit tanaman untuk dibudidayakan agar dapat menghasilkan bahan makanan yang bernutrisi serta sebagai tambahan ekonomi mereka; pendampingan intensif mengenai gizi, pemanfaatan dan pengolahan sumber makanan, perilaku hidup bersih sehat,  kemampuan melihat potensi untuk memasarkan hasil budidaya; serta perbaikan kelayakan rumah (atap dan lantai) termasuk sarana sanitasi yang memadai (dapur dan MCK). Program ini juga mencakup pengobatan penyakit bawaan yang diderita keluarga dengan maksud tidak menular kembali kepada anak- anak program.

Sebagai proyek awal, program Tango Peduli Gizi 2011 ini akan mencakup 25 keluarga Nias yang telah mengikuti program BPG pada tahun 2010 lalu dan telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti program pemberdayaan ini selama delapan bulan dari Juli 2011 hingga Februari 2012. Jumlah yang terlihat tidak banyak, namun hasilnya diharapkan memberikan efek mendalam yaitu perubahan perilaku keluarga agar ke depannya mampu meningkatkan kualitas hidup, terbebas dari masalah gizi buruk dan mandiri dalam pemenuhan gizi dan pemeliharaan kesehatannya. Selain itu program ini memiliki tingkat kesulitan terkait budaya serta memerlukan komitmen tinggi dari berbagai pihak termasuk keluarga Nias itu sendiri.

“Pada kesempatan ini, saya mewakili Wafer Tango ingin menyampaikan terima kasih atas kontribusi dan partisipasi masyarakat Indonesia pada program Tango Peduli Gizi 2010. Namun tugas kita untuk membebaskan  bangsa Indonesia dari ancaman gizi buruk ini belum selesai. Untuk itu Wafer Tango mengajak masyarakat untuk tetap bersama-sama berbagi kebaikan membantu anak-anak Indonesia agar terbebas sepenuhnya dari permasalahan gizi. Dan demi tercapainya tugas mulia ini kami sangat mengharapkan dukungan dari masyarakat untuk program Tango Peduli Gizi 2011 ini,” tutup Yuna.

Masyarakat bisa mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai berita terkini dan perkembangan program Tango Peduli Gizi dan berinteraksi langsung dengan anak- anak penerima bantuan melalui www.tangopeduligizi.com.

Setiap kehadiran media pada acara Launching ini berarti turut menyumbangkan 100 ekor lele untuk pemenuhan gizi keluarga Nias dan sekitar 10 persen dari penjualan paket “Tango Peduli Gizi” yang dijual khusus di booth Wafer Tango yang dibuka hanya hari ini (Jumat, 22 Juli 2011) di Atrium Pejaten Village akan turut pula mengembangkan senyum di wajah mereka.

-selesai-

Mengenai Tango:

Tango, Wafer Renyah, pertama kali meramaikan dunia wafer Indonesia pada tahun 1995. Di awal kemunculannya, Tango hadir dengan 3 varian, yaitu Chocolate, Choco-Hazelnut dan Susu Vanilla.

Datangnya respon positif dari berbagai kalangan dan permintaan akan Wafer Tango yang terus bertambah, menjadi salah satu trigger bagi Tango dalam mengembangkan produknya. Hingga saat ini, Tango memiliki 6 varian rasa dalam kemasan menarik, yaitu Chocolate, Susu Vanilla, Strawberry Jam, Tiramisu, Cookies & Cream dan Kurma Madu.

Dengan tag line-nya “Memang Tango Enak”, Tango diciptakan sebagai ahlinya wafer dengan kualitas unggulan, rasa yang enak serta dipadu dengan kerenyahan. Namun dengan segala kualitas yang dimilikinya tersebut, Tango tersedia dengan harga yang terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Selain varian varian regular, Tango juga mengeluarkan varian khusus, yaitu Tango Less Sugar. Produk ini ditujukan bagi kalangan yang menjaga konsumsi gula dalam tubuh. Tango Sugar Free hadir dalam kemasan 16 gr dengan rasa Chocolate dan Susu Vanilla.

Semua usaha yang dilakukan Tango, membawa Tango pada berbagai penghargaan. Selama 9 tahun berturut- turut, yaitu sejak tahun 2002-2010, Tango mendapatkan penghargaan Indonesia Customer Satisfaction Awards (ICSA) dan mendapat Golden ICSA Award (2008) sebagai bentuk penghargaan konsumen atas kualitas produk dan pelayanan wafer Tango. Dan pada tahun 2009, Tango untuk pertama kalinya berhasil mendapatkan CERTIFICATE SUPERIOR TASTE AWARD 2009 dari International Taste & Quality Institute Belgia (iTQi) untuk Wafer Tango Chocolate Cream dan Wafer Tango Vanilla Milk Cream. Prestasi ini menunjukkan bahwa Wafer Tango merupakan wafer premium yang berasal dari bahan-bahan berkualiatas tinggi dan kenikmatan rasanya diakui secara international. Selain itu Tango juga berhasil mendapatkan penghargaan Top Brand Award Platinum dan Top Brand Award for Kids di tahun 2011.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Yuna Eka Kristina

PR Manager

PT Orangtua Group

Tel : 021 – 5365 2121

Fax: 021 – 535 9692

E-mail: pr@ot.cio.id

Duhita Mahatmi / Mutia Wisnu

Stratcom Indonesia

Tel : 021 – 721 59099

Fax: 021 – 727 89521

E-mail: duhita@stratcom.co.id

mutia@stratcom.co.id

Ref. S624/10/3/MediaRelease/ Tango Peduli Gizi – Media Release – Jul2211(FIN-APP).doc

  • Facebook
  • Twitter
  • StumbleUpon
  • Digg
  • Technorati Favorites
  • Google Bookmarks
  • Share/Bookmark

Tags: , , , , , , , , ,

One Response to “TANGO TERUS BANTU PERBAIKI GIZI ANAK INDONESIA MELALUI PROGRAM “TANGO PEDULI GIZI 2011””

  1. Ruju Blesak says:

    selalu berikan yang terbaik untuk indonesia. terima kasih yang sebesar-besarnya kpd wafer TANGO !!!!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

OR

login with facebook