Aurelia Gracelia Jelalu: Terima Kasih Tuhan,Telah Kau Jawab Doaku
Program & Journey, Program Info
Hai, Om, Tante dan teman-teman. Namaku Aurelia Gracelia Jelalu. Keluarga dan teman-teman memanggilku Lia. Aku tinggal di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Umurku delapan tahun. Saat ini aku masih duduk di kelas 2 SD. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang perempuan bernama Fantirelia Jelalu. Fanti belum sekolah karena umurnya masih enam tahun. Sedangkan adikku yang kedua, laki-laki, namanya Yofet Petrus Jelalu. Umurnya masih baru 2,5 tahun. Ia tak pernah mau lepas dari gendongan ibu. Ayahku, Petrus Jelalu bekerja sebagai buruh tani. Sedangkan ibuku, Paulina Ida tidak bekerja. Kehidupan kami sangat sederhana.
Rumahku beratap seng, tapi walaupun setengahnya terbuat dari tembok tanpa plester, sisanya hanya terbuat dari kayu dan bambu cacah. Dalam rumah berukuran 7×8 m ini, kami melakukan semua kegiatan. Walaupun tak seberapa, aku bersyukur masih punya tempat untuk berlindung.
Aku senang sekali kalau bermain bersama teman- temanku, tapi ibu sering melarangku. Aku tidak boleh terlalu capek. Om dokter juga bilang begitu, katanya aku menderita Asma (Asma Bronluale kritis-red). Badanku lemah dan mukaku selalu pucat. Sudah sekitar 5 tahun aku mengidap penyakit ini. Ayah dan ibu tidak punya uang untuk membawaku ke dokter. Penghasilan ayah sebagai buruh tani hanya cukup untuk kami makan sehari-hari, bahkan terkadang kurang. Aku tak menyalahkan mereka atas keadaanku. Tapi hanya satu yang kusesali, wajah ibu yang selalu sedih melihat kondisiku. Ya Tuhan, aku ingin melihat ibu tersenyum. Sedih rasanya melihat ia selalu khawatir dengan kondisiku.
Semua mulai berubah sejak nenek mendengar kabar mengenai program Pemberian Makanan Tambahan Wafer Tango dan OBI (PMT Wafer Tango dan OBI) di dusun seberang. Katanya program tersebut tidak hanya memberikan makanan 4 sehat 5 sempurna, tetapi juga pemeriksaan kesehatan gratis untuk anak-anak. Akhirnya ayahku berangkat kesana agar aku bisa dimasukkan sebagai salah satu anak penerima bantuan. Usaha ayah tidak sia-sia. Aku masuk kedalam daftar anak penerima bantuan Wafer Tango dan OBI. Karena jarak antara dusunku dan dusun seberang sangat jauh, maka ayah dan ibu menitipkan ku ke dusun seberang agar aku bisa dirawat hingga sembuh. Akupun akhirnya pindah sekolah ke dusun seberang.

Kini sudah 3 minggu aku dirawat dan diberi makanan bergizi. Kondisiku mulai membaik dan wajahku pun tak pucat lagi. Kedua orang tua serta keluargaku sangat senang, terutama Ibu. Senyumnya membuncah walau wajahnya terlihat letih. Aku sangat bahagia melihat ia tersenyum. Terima kasih Tuhan. Lewat tangan Wafer Tango dan OBI telah Kau jawab doaku. Buat Wafer Tango dan OBI, hanya terima kasih yang bisa aku sampaikan. Semoga program ini tidak hanya membantu diriku, tapi dapat membantu anak-anak Indonesia lainnya juga. Amin.
*Berdasarkan penuturan Aurelia Gracelia Jelalu
Tags: anak indonesia, NTT, OBI, Pemberian Makanan Tambahan, Wafer Tango

























Alhamdulilllah….chantik uda ceria…senyum N maniiis…selalu tersenyum y
nice