Oleh-oleh dari Nias oleh Siska Honsus
Program & Journey, The Journey
Ya’ahowu
Media Trip Program Tango Peduli Gizi anak Indonesia di Pulau Nias (18-21 Mei 2010), bersama Obor Berkat Indonesia sebagai pelaksana di lapangan dan beberapa rekan media yang turut serta bersama kami.
Beberapa hari sebelum berangkat, aku sempat berpikir “seperti apa ya pulau Nias itu?”
Semua terjawab ketika aku sampai di Bandara Binaka, Gunung Sitoli (18 Mei 2010). Dalam perjalanan, mata ku tak henti-hentinya melihat kekanan dan kekiri, terkesan dengan pulau kecil nan sederhana itu. Saat itu kami langsung menuju Balai Pemulihan Gizi yang jaraknya tidak jauh dari bandara. Disana ada sekitar belasan anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk, dirawat secara intensif oleh para dokter yang mengabdi disana. Aku tertegun melihat anak-anak disana,bahkan ketika aku mendengar cerita bahwa sebelum mereka di bawa ke Balai Pemulihan Gizi, tubuh mereka lebih kurus dari yang aku lihat saat itu.
Senyum manis dan riang serta tangan-tangan mungil menyambut kedatangan kami. Dalam hati aku berkata “Tuhan, inilah penerus Bangsaku nanti. Mengapa mereka begitu lemah?” Kami berkeliling melihat keadaan pasien disana, seorang anak bernama Esther Jernih W. Zega (7 thn) menarik perhatianku. Tubuhnya kurus, anggota tubuhnya tidak dapat digerakkan, ia hampir tidak dapat merespon kami, hanya dari gerakkan matanya, aku tahu matanya berbinar, tanda ia senang melihat kedatangan kami. Ditemani sang nenek, Esther kecil terus menatap kami. Aku senang mendengar kemajuan Esther, katanya berat badannya sudah naik beberapa kg selama dirawat di Balai Pemulihan Gizi.
Keesokan harinya, kami berangkat ke Desa Sisarahili, lokasi Pemberian Makanan Tambahan. Perjalanan disana memakan waktu sekitar 2 jam. Untuk sampai disana kami harus melewati hutan, sungai, dan sekitar setengah jam perjalanan kami harus melewati jalan berbatu. Ketika sampai di PMT, kami disambut dengan tarian daerah yang berlangsung sekitar 100 menit. Sambutan yang sungguh meriah. Sebelumnya tarian-tarian seperti itu hanya pernah aku lihat di televisi, namun saat itu aku melihatnya langsung. Perjalanan jauh nan melelahkan terbayar sudah. Sinar matahari yang menyengat tidak dihiraukannya. Kami pun tak kuasa untuk bergabung dan menari bersama, mengikuti gerak kaki tangan mereka. Penghargaan yang besar seumur hidupku.

Setelah mendengarkan kata-kata sambutan, kami masuk kedalam aula, disana anak-anak PMT sudah duduk rapi dan siap menyantap makanan bergizi. Aku sempat menyuapi salah seorang anak bernama Obertus (2 thn). Ia makan dengan lahap dan dengan segera menghabiskan makanannya. Setelah makan, mereka dibagikan Wafer Tango dan Susu. Disana juga dilakukan pemeriksaan kesehatan (seperti penimbangan berat badan,pengukuran lingkar lengan, serta pemberian obat-obatan bagi yang membutuhkan) yang dilakukan oleh dokter-dokter dari OBI.
Senyum riang tidak hanya terpancar dari wajah mereka, tapi juga dari wajah orangtua mereka. Betapa mereka bersyukur, karena selama 3 bulan ini Tango dan OBI telah memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.
Banyak pelajaran bermakna yang aku dapat disana, aku belajar bagaimana berbagi, saling mengasihi meski kami tak saling kenal sebelumnya. Dan aku bertekad bahwa tidak akan ada lagi makanan yang terbuang sia-sia.
Kami juga mengunjungi rumah salah satu peserta PMT, Julianus Harefa (5 thn), bungsu dari empat bersaudara ini tinggal bersama dengan kedua orangtuanya dalam rumah berukuran 4×5 meter. Mereka tidur, memasak, dan melakukan segalanya disana. Atap-atap rumahnya bocor, ketika turun hujan mereka harus mengungsi ke pinggir rumah agar tidak basah. Julianus menderita gizi buruk, kakinya letter X, dan diduga menderita TB paru. Hati aku menangis saat itu. Julianus kecil seharusnya menghabiskan waktu dengan bermain dan bermanjakan kasih sayang, namun ia harus menderita karena keadaan keluarganya yang tidak mampu. Setiap harinya mereka makan nasi dengan ikan asin, jika tidak ada nasi, mereka hanya makan ubi atau pisang rebus. Begitu miris kehidupan mereka.
Melihat keadaan Julianus, aku belajar mensyukuri apa yang aku miliki kini. Aku belajar menghargai setiap makanan yang aku makan, meskipun aku tidak menyukainya. Kehidupan yang sulit yang aku pernah alami tidak akan pernah sebanding dengan penderitaan mereka. Doaku, semoga saja akan ada berkat-berkat yang melimpah untuk mereka. Masa kecilnya yang penuh derita dapat membuat kakinya berdiri tegar kelak. Semoga saja, suatu saat nanti aku dapat mendengar bahwa Julianus Harefa telah tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan cerdas. Dan bahkan berjumpa dengannya lagi, harapku.
Setelah melakukan kunjungan sosial, kami menyaksikan keindahan alam Nias di Pantai Sawo. Pantainya indah, namun sepi. Kami menyantap ikan bakar, jagung bakar, dan kelapa muda. Suasana kekeluargaan terasa sekali. Padahal rata-rata kami baru saling mengenal. Suasana hangat yang penuh canda dan tawa mengiringi matahari bersembunyi dibalik langit yang semakin senja. Terpancar wajah-wajah puas dan bahagia setelah melakukan kunjungan sosial selama dua hari yang sangat berkesan itu .
Keesokan harinya, kami mengunjungi lokasi lompat batu di bagian selatan kepulauan Nias. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Disana terdapat sebuah perkampungan yang sangat unik, rumah-rumahnya terbuat dari kayu. Terdapat pula sebuah bangunan yang paling besar diantara yang lainnya, konon disanalah tempat tinggal Raja. Kami memasuki bangunan tersebut, besar, gelap dan masih terawat. Kami diperbolehkan duduk dan berfoto di kursi Raja dan Ratu. Setelah itu, kami melihat atraksi lompat batu yang dilakukan oleh 2 pemuda yang mengenakan pakaian adat mereka. Tepuk tangan meriah serta wajah yang terkagum-kagum dari para penonton mengiringi langkah kedua pemuda itu.
Setelah dari lokasi lompat batu kami mampir sebentar untuk membeli souvenir. Setelah itu, kami kembali ke hotel dan mempersiapkan diri untuk acara makan malam bersama pejabat setempat. Acara makan malam di hotel berlangsung secara kekeluargaan. Akhirnya kami tahu bahwa mereka, selaku perwakilan dari Nias, menanti-nantikan adanya para investor yang mau mananamkan modalnya di pulau Nias, agar Nias sedikit lebih berkembang. Potensi-potensi wisatanya di maksimalkan, sehingga akan ada banyak visitor yang berminat mengunjungi pulau kecil dengan sejuta keindahan itu.
Terimakasih Tango yang telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengikuti acara ini. Terimakasih OBI atas pengabdian kalian. Harapanku, semoga akan ada anak-anak di desa-desa lainnya yang mendapatkan kesempatan pemulihan gizi dari Tango dan OBI.
Empat hari bersama kalian adalah pengalaman terindah dalam hidupku, pengalaman yang akan terus terbingkai manis dalam hatiku.
Torōī Ami Fefu, Ya’ahowu.
Saohagὅlὅ!
*) Penulis adalah Duta Tango terpilih dalam program Duta Tango go To Nias yang mendapat kesempatan untuk pergi bersama dengan Tango melihat langsung program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia (Balai Pemulihan Gizi dan Pemberian Makanan Tambahan) di Pulau Nias.
Tags: Anak Nias, Balai Pemulihan gizi, Gizi, OBI, Perbaikan Gizi, PMT, tango, Wafer Tango
























